Baratan Kalinyamatan hingga Mi Ongklok, 57 Budaya Jateng Diakui sebagai WBTbI 2025
Semarang, MBGtoday.com, Sebanyak 57 warisan budaya asal Jawa Tengah, ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) 2025 oleh Kementerian Kebudayaan RI.
Salah satunya “Lir-Ilir”, tradisi lisan yang kerap ditembangkan masyarakat, bahkan menggema hingga ke Benua Australia.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jawa Tengah, Eris Yunianto menjelaskan, awalnya provinsi tersebut mengusulkan 58 budaya dari 23 kabupaten/ kota. Setelah sidang penetapan pada Jumat (10/10), sebanyak 57 di antaranya dinyatakan layak menyandang predikat WBTbI 2025.
“Tahun ini luar biasa, sebarannya mencakup lebih dari 60 persen wilayah Jawa Tengah. Total 57 budaya ini menjadi yang terbanyak se-Indonesia,” ujar Eris, Senin (13/10).
Menurutnya, proses pengusulan berlangsung 1–2 tahun, mencakup penyusunan data pendukung serta identifikasi maestro atau pelaku budaya, yang masih aktif melestarikan tradisi tersebut.
Eris menegaskan, penetapan WBTbI bukan akhir dari upaya pelestarian. Pemerintah dan masyarakat memiliki tanggung jawab melestarikan dan mewariskan budaya itu kepada generasi berikutnya, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
“Penetapan ini baru tahap perlindungan. Setelah itu masih ada pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan,” jelasnya.
Ditambahkan, kategori WBTbI 2025 tidak hanya mencakup seni, tetapi juga kuliner tradisional dan ritual adat. Misalnya, horok-horok dari Jepara, sop senerek asal Magelang, tradisi Sidekah Kupat dari Cilacap, hingga Lir-Ilir dari Demak yang telah menjadi tradisi lisan populer.
Salah satunya, “Lir-Ilir,” bahkan pernah menggema di ajang Serenata Rhythm Nusantara 2024 di Perth, Australia, yang dibawakan oleh grup musik Ten2Five.
Adapun 57 budaya asal Jawa Tengah yang ditetapkan sebagai WBTbI 2025 meliputi, Ratiban Pandansari, Horog-Horog, Batik Jepara, Grebeg Tanjungsari, Tata Rias Pengantin Srimpi Priyayi, Tahok, Manganan Janjan.
Adapula, Wukon Warga Adat Kalikudi, Sedekah Bumi Banjarwaru, Ilir-Ilir, Baratan Kalinyamatan, Pindang Serani, Memeden Gadhu, Sop Snerek, Kesenian Brendung, Kesenian Manongan, Laesan Lasem Kabupaten Rembang, Kriya Seni Tatah Sungging Wayang Kulit Sonorejo Sukoharjo.
Kemudian, Gempol Pleret Sukoharjo, Bedhaya Duradasih, Bedhaya Sukoharjo, Canthik Kyai Rajamala, Lagu Bengawan Solo, Pengantin Basahan Gaya Surakarta, Srimpi Lobong, Tari Adaninggar Kelaswara, Tari Golek Lambangsari Pura Mangkunegaran.
Selain itu, Bangilun, Arab Pegon Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu, Ukir Kaligrafi Jepara, Kaligrafi China Semarang, Tradisi Bubur Samin Masjid Darussalam Surakarta, Bubur India Koja Semarang, Tradisi Ambeng Desa Tieng, Lam Koan.
Selanjutnya, Sidekah Kupat, Guyang Cekathak, Syawalan Lopis, Sego Megono Pekalongan, Barongsai Semarangan, Wingko Babad Semarangan, Ganjel Rel, Batik Rifa’iyah, Perlon Unggahan Masyarakat Adat Banokeling, Buncisan.
Lalu, Wayang Gagrag Banyumas, og Naluri Brijo Lor, Kethoprak Pati, Gong Cik, Selametan Giling Tebu Pabrik Gula Sragi, Gendukan, Jemparingan Surakarta, Kembar Mayang Surakarta, Srimpi Gandakusuma, Tari Prawira Watang Surakarta, Wayang Kedu Gagrag Wonosaban, serta Mi Ongklok.

