Asia-Pasifik Bisa Jadi Contoh Dunia Penerapan Sains Terbuka yang Inklusif
Jakarta, MBGtoday.com, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko, menyatakan keyakinannya bahwa kawasan Asia-Pasifik dapat menjadi contoh dunia dalam membangun model sains terbuka (open science) yang inklusif, beretika, dan berkelanjutan.
Kawasan Asia-Pasifik yang merupakan rumah bagi lebih dari setengah populasi dunia, memiliki kekayaan luar biasa dalam hal bahasa, budaya, dan ekosistem. Menurutnya, keberagaman ini bukan tantangan, melainkan sumber kekuatan yang dapat memperkaya praktik sains terbuka.
“Asia-Pasifik memiliki tradisi panjang dalam pembelajaran kolektif, saling mendukung, dan menghargai kearifan lokal. Nilai-nilai ini dapat menjadi dasar bagi tata kelola sains global yang inklusif, etis, dan berkelanjutan,” kata Handoko, pada Global Research Council (GRC) Asia-Pacific Regional Meeting, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Selasa (4/11).
Sains terbuka, sambung dia, bukan sekadar soal akses terhadap data atau publikasi, tetapi tentang keadilan, transparansi, dan partisipasi.
"Sains harus dibuka dengan cara yang menghormati konteks sosial dan budaya di mana ia berkembang,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Handoko menyoroti pentingnya menghindari pendekatan seragam dalam membangun ekosistem sains terbuka. Ia menilai model yang seragam justru berisiko mereproduksi ketimpangan global yang sudah ada.
Sebaliknya, ia mendorong pengembangan model keterbukaan yang plural dan kontekstual, dengan menghargai pengetahuan lokal dan adat. “Kita harus mengakui sains tidak pernah netral. Ia dibentuk oleh nilai dan sejarah sosial. Karena itu, cara kita membuka sains pun harus dipandu prinsip keadilan dan tanggung jawab,” ujarnya.
BRIN, kata Handoko, telah mulai menerapkan prinsip-prinsip tersebut dalam sistem riset nasional Indonesia. Langkah-langkah itu mencakup pembangunan repositori terbuka yang berfungsi sebagai ruang kolaboratif, penguatan kemitraan internasional untuk berbagi data secara etis, serta pengembangan kerangka kerja nasional untuk tata kelola kecerdasan buatan (AI) yang menjunjung tinggi keadilan dan martabat manusia.
Handoko juga menyoroti peran penting AI dalam memperluas akses terhadap pengetahuan dan mempercepat penemuan ilmiah. Namun, ia mengingatkan pemanfaatan AI harus dilakukan secara bertanggung jawab.
“AI berpotensi mempercepat kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi jika tidak dikelola dengan etika, ia dapat memperdalam bias dan ketimpangan. Karena itu, kita perlu mengedepankan responsible openness atau keterbukaan yang dipandu oleh nilai-nilai etika dan keadilan,” ujarnya.
Ia menambahkan, prinsip responsible openness sejalan dengan rekomendasi UNESCO tentang Sains Terbuka dan nilai-nilai GRC. Menurutnya, AI seharusnya menjadi alat untuk mempersempit kesenjangan dan mendemokratisasi pengetahuan, bukan memperkuat konsentrasi kekuasaan ilmiah.
Melalui forum ini, Handoko mendorong mekanisme pendanaan lebih berorientasi pada kolaborasi daripada kompetisi, serta agar infrastruktur riset dikelola sebagai public goods yang berkelanjutan.
“Keberhasilan riset tidak hanya diukur dari jumlah publikasi atau sitasi, tetapi sejauh mana dampaknya dirasakan nyata oleh masyarakat, komunitas, dan planet ini,” tegasnya.
Deputy Executive Secretary, GRC Secretariat (DFG), Felina Wittke, menjelaskan peran GRC sebagai forum global yang menyatukan lembaga pendanaan riset dari seluruh dunia untuk membahas isu-isu bersama dan memperkuat kolaborasi internasional.
“GRC menyediakan ruang aman bagi para pemimpin lembaga pendanaan riset untuk berbagi praktik terbaik, data, dan wawasan kebijakan,” ujarnya.
Ia menambahkan, saat ini GRC memiliki tiga kelompok kerja utama yang berfokus pada kesetaraan, keberagaman, dan inklusi; penilaian riset yang bertanggung jawab; serta keterlibatan multidimensi.
Dalam kesempatan yang sama, Chief Executive Officer National Research Foundation (NRF) Singapura, John Lim, menyampaikan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam menghadapi berbagai tantangan global di era ketidakpastian.
Ia mengungkapkan, kawasan APEC berpotensi besar menjadi motor penggerak inovasi global, dengan kontribusi sekitar 37 persen terhadap PDB dunia dan diproyeksikan meningkat menjadi lebih dari 40 persen pada 2040.
“Sebagai bentuk komitmen konkret, BRIN dan NRF Singapura akan menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) tentang kerja sama riset dan inovasi, termasuk dalam bidang keselamatan nuklir dan ilmu kelautan, hari ini,” tandasnya.

