Mundur dari PKB, Gus Yusuf Potensial Pimpin PBNU
Cirebon, MBGtoday.com, Pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah KH Muhammad Yusuf Chudlori menjadi figur potensial untuk menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahlatul Ulama (PBNU).
Kombinasi nasab ulama, rekam jejak pengabdian, kemandirian politik, serta kedekatan dengan umat menjadikan KH Muhammad Yusuf Chudlori sebagai salah satu figur yang paling diperhitungkan dalam bursa Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar NU ke-35 yang akan digelar dalam waktu dekat ini.
Yusuf Chudlori atau akrab disapa Gus Yusuf baru saja mengambil keputusan mundur dan tidak lagi aktif dalam struktur Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Baik sebagai Ketua DPW PKB Jawa Tengah maupun pengurus DPP.
Sinyal itu dinilai sebagai persiapan Gus Yusuf untuk berkhidmah di jalur struktural NU.
Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli Lc MA menilai, keputusan Gus Yusuf mundur dari struktural PKB, terkonfirmasi telah dikomunikasikan langsung kepada pimpinan partai.
“Beliau memilih fokus mengelola pesantren, khidmah perjuangan keumatan yang lebih luas dan pengabdian kepada jam’iyyah Nahdlatul Ulama,” ungkap kiai Imam, Sabtu (7/2).
Di antara sejumlah nama yang mencuat, Kiai Imam menilai Gus Yusuf sebagai salah satu figur paling potensial dari sisi kapasitas. Kekuatan basis massa, hingga dukungan kultural pesantren.
Sebagai pengasuh Pondok Pesantren API (Asrama Perguruan Islam) Tegalrejo, Magelang, Gus Yusuf memiliki modal sosial yang kuat.
Pesantren API Tegalrejo dikenal luas sebagai pesantren besar dengan sejarah panjang dan kontribusi signifikan bagi umat dan bangsa.
Gus Yusuf sendiri merupakan putra ulama kharismatik KH Chudlori, pendiri Pesantren API Tegalrejo. Reputasi keilmuan dan keteladanannya telah diakui lintas generasi.
Pesantren API Tegalrejo juga memiliki ikatan historis dengan tokoh besar NU, KH Abdurrahman Wahid. Gus Dur pernah nyantri langsung kepada KH Chudlori. Jejak sejarah ini memperkuat pandangan bahwa Gus Yusuf berada dalam sanad keilmuan dan tradisi pemikiran Islam moderat ala Gus Dur.
Tak hanya itu, Gus Yusuf juga merupakan alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Latar belakang pendidikan di salah satu pesantren terbesar di Jawa Timur tersebut memberinya legitimasi keilmuan yang kuat di mata para kiai sepuh maupun santri muda.
Dengan jejaring pesantren Tegalrejo dan Lirboyo, Gus Yusuf dinilai merepresentasikan kekuatan Nahdliyin Jawa Tengah dan Jawa Timur sekaligus.
Di tingkat akar rumput, Gus Yusuf dikenal sebagai mubaligh yang aktif berkeliling dari desa ke desa. Ia rutin mengisi pengajian-pengajian rakyat dan berdialog langsung dengan warga NU. Gaya dakwahnya yang santun, sejuk, dan lugas membuatnya mudah diterima lintas generasi.
Pengalaman organisasi dan basis massa yang solid di Jawa Tengah dan sekitarnya juga menjadi keunggulan tersendiri.
"Meski memiliki pengaruh besar, Gus Yusuf tetap dikenal rendah hati. Menjaga etika pesantren, sosoknya santun meneduhkan" lanjut kiai Imam.
Keputusan Gus Yusuf meninggalkan jabatan-jabatan struktural di partai politik dinilai sejalan dengan aspirasi warga NU. Menghendaki organisasi kembali ke khittah, independen dari kepentingan politik praktis.
Dalam konteks tantangan kebangsaan, Gus Yusuf juga dipandang memiliki visi moderasi beragama yang sejalan dengan nilai-nilai Gusdurian. Dengan usia yang relatif lebih muda dibanding sejumlah kandidat lainnya, Gus Yusuf dianggap sebagai simbol regenerasi kepemimpinan NU.
"Ya, beliau dinilai mampu menjembatani generasi kiai sepuh dan kaum milenial, tanpa kehilangan otoritas keilmuan pesantren," katanya.

