219 Tahun Keuskupan Agung Jakarta, Ribuan Umat Ikuti Jalan Santai  


Jakarta, MBGtoday.com, Semangat toleransi dan pelestarian lingkungan mewarnai perayaan syukur 219 Tahun Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). 

Menteri Agama Nasaruddin Umar bersama lebih 3.500 umat mengikuti Jalan Santai Kerukunan dan Kebhinekaan Lintas Iman. Hadir, umat paroki se-KAJ, tokoh lintas agama, perwakilan penghayat kepercayaan, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), serta jajaran instansi pemerintah.

Jalan Santai Kerukunan dan Kebhinekaan Lintas Iman dimulai dari Paroki Katedral Jakarta, Jakarta Pusat. 

Mengusung tema “Keutuhan Alam Ciptaan”, momentum ini menjadi ajang selebrasi harmoni bangsa yang mendapat apresiasi dari Menteri Agama Nasaruddin Umar.

Menag menyoroti capaian luar biasa bangsa Indonesia dalam merawat persaudaraan. Menag mengungkapkan bahwa tingkat kerukunan umat beragama di Indonesia saat ini berada pada titik puncaknya. 

“Survei membuktikan semenjak Republik Indonesia ini merdeka, alhamdulillah kita berhasil naik pada peringkat paling tinggi, 87 persen. Berarti kita mencapai puncak kerukunan tertinggi. Jakarta juga menjadi ibu kota kedua ter-rukun dan damai di Asia Tenggara,” ujar Menag, Sabtu (9/5).

Menag menekankan bahwa Indonesia adalah contoh nyata bagaimana kemajemukan dapat dirawat menjadi kekuatan yang indah. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat dan media massa untuk terus menjaga stabilitas dan tidak merusak kedamaian yang telah terbangun.

“Indonesia itu sebuah konfigurasi seperti lukisan. Indonesia adalah lukisan Tuhan yang sangat cantik. Jangan ada yang merusak lukisan ini. Saya ingin betul-betul agar Indonesia menjadi contoh negara yang paling majemuk tapi juga sekaligus menjadi contoh negara yang paling toleran dan rukun,” tambahnya.

Simbol nyata dari erat kerukunan tersebut berdiri kokoh di pusat ibu kota, yakni Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. 

Di hadapan ribuan peserta, Menag menceritakan kembali sejarah pembangunan terowongan tersebut yang awalnya diusulkan kepada Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.

Meskipun pembangunannya menelan biaya yang tidak sedikit akibat harus menyesuaikan dengan jalur pipa air peninggalan Belanda, proyek tersebut tetap dieksekusi karena nilai filosofisnya yang tak ternilai.

“Yang kita bangun ini bukan sekadar terowongan, melainkan ikon dan simbol toleransi. Dan hasilnya, ini adalah satu-satunya terowongan toleransi di dunia. Setiap tamu negara, termasuk Paus Fransiskus, kunjungan pertamanya setelah Istana pasti ingin melihat terowongan ini,” kenang Menag.

Menag menegaskan visinya bersama Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo, bahwa Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan "Rumah Kemanusiaan". 

“Idealnya semua rumah ibadah itu menjadi rumah kemanusiaan. Tempat untuk menyelesaikan seluruh persoalan kemanusiaan adalah rumah ibadah itu sendiri,” tegasnya.

Menag menjabarkan langkah strategis Kementerian Agama dalam menginternalisasi nilai-nilai pelestarian alam melalui pendidikan keagamaan. Kemenag saat ini tengah menggencarkan konsep Ekoteologi dan Kurikulum Cinta.

“Baru-baru ini kami mengumpulkan sekitar 305 ribu orang guru agama dari berbagai agama. Testimoni mereka luar biasa. Semenjak Kurikulum Cinta ini diterapkan, anak-anak kita mulai menyayangi binatang, tumbuh-tumbuhan, dan seluruh alam semesta, tidak lagi menjadikannya sekadar objek,” papar Menag.