Jaga Kelestarian Alam, Gaungkan Gerakan Ekoteologi Pilah Sampah
Jakarta, MBGtoday.com, Ada banyak cara untuk berkontribusi dalam menjaga kelestarian alam. Salah satunya diinisiasi penyuluh agama melalui Gerakan Ekoteologi Pilah Sampah.
Gerakan Ekoteologi Pilah Sampah menjadi rangkaian peringatan Hari Lahir Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) ke-3 Tahun 2026. Acara ini dipusatkan di Auditorium Masjid Ni’matul Ittihad, Pondok Pinang, Jakarta Selatan, Sabtu (23/5).
Gerakan ini ditandai dengan penanaman pohon dan penyerahan simbolis tong sampah terpilah kepada pengurus Masjid Ni’matul Ittihad.
Hadir, Direktur Penerangan Agama Islam Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, mewakili Direktur Jenderal Bimas Islam, Abu Rokhmad, Pimpinan Pusat IPARI dan Pengurus Wilayah IPARI DKI Jakarta, Camat Kebayoran Lama, Lurah Pondok Pinang, para penyuluh agama lintas iman, dan tokoh masyarakat.
Muchlis M Hanafi menegaskan bahwa gerakan pilah sampah bukan sekadar agenda lingkungan, tetapi bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual umat beragama dalam merawat bumi sebagai amanah Tuhan.
“Penyuluh agama tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga menghadirkan kesadaran keagamaan yang berdampak nyata bagi kehidupan sosial dan lingkungan. Merawat bumi adalah bagian dari tanggung jawab dan pengabdian keagamaan,” ujarnya.
Ia menyampaikan apresiasi dan mengajak para penyuluh agama untuk mendukung Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang telah mengeluarkan kebijakan wajib pilah sampah melalui Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2026.
Kebijakan tersebut mewajibkan masyarakat memilah sampah sejak dari sumbernya ke dalam empat kategori: organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun (B3), serta residu.
Menurut Muchlis, langkah tersebut sejalan dengan arah kebijakan nasional sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam penguatan ketahanan lingkungan dalam bentuk harmoni dengan alam dan pembangunan berkelanjutan.
Gerakan ini juga sejalan dengan program prioritas Kementerian Agama tentang penguatan ekoteologi yang terus didorong Menteri Agama Nasaruddin Umar.
“Ekoteologi mengajarkan bahwa hubungan manusia dengan Tuhan harus tercermin dalam hubungan yang baik dengan alam. Kesalehan tidak berhenti di atas sajadah dan di rumah ibadah, tetapi juga tampak dalam cara kita memperlakukan lingkungan,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Muchlis juga menyoroti persoalan food waste atau pemborosan pangan yang kini menjadi persoalan global serius.
Ia mengutip laporan Food Waste Index Report 2024 dari United Nations Environment Programme (UNEP) yang mencatat sekitar 1,05 miliar ton makanan terbuang setiap tahun atau setara 132 kilogram per orang.
“Yang lebih memprihatinkan, sekitar 60 persen pemborosan itu justru terjadi di tingkat rumah tangga, di dapur dan meja makan kita sendiri. Ini menunjukkan bahwa krisis sampah dan limbah pangan berakar dari kebiasaan sehari-hari yang sering dianggap sepele,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak para penyuluh agama untuk aktif mengedukasi masyarakat tentang konsep israf dan tabdzir dalam Islam sebagai landasan moral untuk mengurangi pemborosan pangan dan membangun budaya hidup yang lebih bijak dalam konsumsi makanan.
“Islam mengajarkan keseimbangan, tidak berlebihan, dan menghargai nikmat. Ketika makanan dibuang sia-sia, sesungguhnya kita bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengabaikan nilai syukur,” tambahnya.
Gerakan Ekoteologi–Pilah Sampah menjadi salah satu rangkaian utama Harlah IPARI Ke-3 bertema “IPARI Merawat Indonesia: Gerakan Spiritual, Literasi, dan Ekoteologi” yang dilaksanakan pada 5 Mei hingga 30 Juni 2026.
Melalui kegiatan ini, IPARI diharapkan semakin memperkuat peran penyuluh agama sebagai agen perubahan sosial yang mampu menghadirkan dakwah yang kontekstual, solutif, dan menyentuh persoalan nyata masyarakat, termasuk isu lingkungan hidup dan pengelolaan sampah.

