Jawab Kebutuhan Industri Digital, BLK Siapkan Editor Video Bersertifikat
Pekalongan, MBGtoday.com, Perkembangan media sosial, industri kreatif, hingga kebutuhan promosi digital yang terus meningkat, membuat keterampilan mengolah video semakin dibutuhkan. Bahkan, pelatihan-pelatihan penyuntingan video menjadi salah satu pelatihan, yang diburu masyarakat.
Hal itu dialami Febriana, salah seorang peserta Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) 2026, di Balai Latihan Kerja (BLK) Kota Pekalongan, Jawa Tengah.
Ia tertarik mengikuti pelatihan tersebut, untuk memperdalam pengetahuan dan keterampilan secara lebih profesional.
“Saya memilih video editor karena memang sudah ada basic sedikit. Dulu saya pernah meng-handle akun kelas, sehingga sesekali melakukan editing video. Dari situ saya ingin mengembangkan potensi yang saya miliki,” katanya saat ditemui di ruang praktik BLK Kota Pekalongan, Selasa (9/6).
Selama mengikuti pelatihan, Febriana mengaku mendapatkan banyak materi baru, terutama terkait penggunaan perangkat lunak penyuntingan video, yakni Adobe Premiere.
Baginya, proses belajar memang membutuhkan waktu, karena perangkat lunak yang digunakan jauh lebih kompleks dibandingkan dengan aplikasi penyuntingan yang biasa dipakai sehari-hari. Meski demikian, ia optimistis kemampuan yang dimiliki akan terus berkembang seiring berjalannya pelatihan.
“Harapannya setelah lulus saya bisa menjadi freelancer dan content creator, sehingga keterampilan yang didapat dari pelatihan ini benar-benar bisa dimanfaatkan,” pungkasnya.
Instruktur TIK BLK Kota Pekalongan, Wiwiek Hayyien, mengatakan, pelatihan video editor yang dilaksanakan BLK telah mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), yang ditetapkan Kementerian Ketenagakerjaan.
Ia menjelaskan, selama pelatihan peserta akan mempelajari 11 unit kompetensi.
“Nanti di akhir pelatihan peserta akan mengikuti uji kompetensi. Materi yang diberikan menggunakan SKKNI dari Kementerian Ketenagakerjaan, yang terdiri dari 11 unit kompetensi itu,” jelasnya.
Dijelaskan, metode pembelajaran yang dipakai dalam pelatihan tersebut adalah pembelajaran berbasis proyek atau project based learning.
Dalam tahap tersebut, peserta akan mengerjakan empat proyek sebagai sarana untuk mengasah kemampuan, sekaligus mengaplikasikan materi yang telah dipelajari selama pelatihan.
“Jadi mereka tidak hanya belajar teori, tetapi langsung praktik menghasilkan karya,” tandasnya.
Menurut Wiwiek, sekitar 70 hingga 80 persen peserta yang mengikuti pelatihan merupakan pemula. Sebagian besar berasal dari kalangan generasi muda atau Gen Z, yang sudah akrab dengan media sosial dan aplikasi editing berbasis telepon pintar.
“Mereka sebenarnya sudah sering menggunakan aplikasi editing, seperti CapCut yang berbasis AI. Namun, di sini kami melatih dari awal dan dari nol, menggunakan perangkat dan software (perangkat lunak) yang lebih profesional,” ujarnya.
Ia berharap, setelah menyelesaikan pelatihan, para peserta mampu menghasilkan karya yang lebih beragam, mulai dari video promosi, film pendek, dokumenter, hingga konten yang dapat mengangkat potensi daerah.
Lebih lanjut, ia melihat peluang kerja di bidang video editing saat ini terbuka sangat luas. Selain bekerja di perusahaan atau instansi, lulusan juga dapat meniti karier secara mandiri sebagai penyunting video, kreator konten, dan lainnya.

