Studi Antaragama Penting Dikembangkan


Bandung, MBGtoday.com, Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai perguruan tinggi keagamaan memiliki peran penting dalam mempertemukan kajian agama dengan persoalan kemanusiaan. 

Salah satunya melalui pengembangan studi antaragama yang dapat memperkuat upaya membangun perdamaian di tengah masyarakat yang majemuk.

Menag mengatakan, kajian keagamaan di perguruan tinggi perlu terus berkembang mengikuti kompleksitas kehidupan masyarakat. Interaksi antarkelompok agama, perubahan sosial, hingga berbagai persoalan kemanusiaan membutuhkan pendekatan keilmuan yang mampu menjembatani perbedaan.

“Studi antaragama, pembangunan perdamaian, dan literasi keagamaan menjadi bidang yang sangat penting untuk kita kembangkan,” ujar Menag Nasaruddin Umar di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Minggu (23/8).

Menurut Menag, pengembangan kajian tersebut penting agar perguruan tinggi keagamaan tidak hanya menghasilkan pengetahuan tentang agama, tetapi juga mampu memberikan kontribusi terhadap kehidupan bersama. 

Terlebih, masyarakat saat ini hidup dalam ruang yang semakin terbuka dan mempertemukan beragam identitas, keyakinan, serta cara pandang.

Perspektif tersebut juga menjadi perhatian Dekan Magister Studi Antaragama, Hartford International University for Religion and Peace, Deena Grant. 

Dalam paparannya, Deena menjelaskan bahwa studi antaragama berangkat dari realitas bahwa kehidupan beragama tidak berlangsung dalam ruang yang terisolasi.

Studi antaragama memadukan beragam disiplin, mulai dari studi agama, teologi, sejarah, antropologi, sosiologi, hingga studi perdamaian dan konflik. Pendekatan tersebut digunakan untuk memahami bagaimana orang-orang dari latar belakang agama berbeda bertemu, berinteraksi, dan membangun hubungan satu sama lain. 

Identitas keagamaan juga tidak terbentuk dalam ruang hampa. Manusia membangun dan memahami identitasnya melalui relasi dengan orang lain. 

Dalam proses tersebut, perjumpaan antarkelompok agama dapat menghasilkan kehidupan yang damai, tetapi pada kondisi tertentu juga dapat diwarnai ketegangan bahkan konflik.

Karena itu, studi antaragama menempatkan agama bukan hanya sebagai objek kajian, melainkan juga melihat bagaimana agama dapat menjadi sumber rekonsiliasi, pembangunan perdamaian, kepedulian terhadap lingkungan, serta kerja sama sosial.