Pelaku Penembakan Diplomat di Peru Disebut Geng Kriminal
Lima, MBGtoday.com, Kepolisian Nasional Peru menangkap lima pria Venezuela di ibu kota Lima yang diduga terlibat dalam pembunuhan diplomat Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Peru, Zetro Leonardo Purba, pekan lalu.
Salah satu dari lima tersangka juga merupakan pemilik sepeda motor yang diduga digunakan dalam penyerangan diplomat tersebut, untuk alasan yang belum dijelaskan.
Kepolisian Nasional Peru mengumumkan di media sosial bahwa kelima orang tersebut telah ditahan. Namun tidak menyebutkan kewarganegaraan mereka atau mengindikasikan bahwa mereka terkait dengan serangan mematikan terhadap korban.
“Di distrik San Martin de Porres (Lima), setelah operasi intelijen, kepolisian menangkap terduga anggota geng kriminal 'Los Maleantes del Cono' (Preman Kerucut). Sebuah pistol berisi peluru, lima bahan peledak, dan sekring sepanjang 15 meter disita; narkoba, 10 ponsel, dan sebuah sepeda motor juga disita," ungkap kepolisian.
Korban diserang oleh para pembunuh bayaran di pintu masuk gedung tempat tinggalnya, di distrik Lince, Lima, saat ia tiba dari bersepeda.
"Keadaan dan motif di balik viktimisasi orang ini belum diketahui, tetapi kemungkinan balas dendam tidak dapat dikesampingkan," ujar Komisaris Kantor Polisi Lince, David Guivar, kepada saluran TV Peru.
Sementara itu, Dosen Hubungan Internasional UGM, Muhadi Sugiono mengatakan, peristiwa ini memunculkan pertanyaan mengenai keamanan diplomat Indonesia di luar negeri.
Dia berpendapat tidak bisa serta-merta berasumsi terdapat motif politik terkait kasus penembakan ini sebelum dilakukan diinvestigasi tuntas.
Muhadi menekankan pentingnya menunggu hasil investigasi resmi untuk menyimpulkan apakah kasus ini murni tindak kriminalitas atau disertai motif politik.
“Jika sekadar tindak kriminal, maka kasus ini tidak bisa serta-merta dikategorikan sebagai targeted killing,” katanya, Senin (15/9).
Namun, jika ada indikasi keterlibatan politik, maka peristiwa ini akan menimbulkan dampak yang lebih serius bagi hubungan kedua negara.
“Yang menjadi masalah adalah kekebalan diplomatik yang patut dipertanyakan. Pemerintah Peru perlu memastikan keamanan perwakilan Indonesia,” sebutnya.
Ia juga menyebutkan bahwa perlindungan terhadap diplomat pasti bersifat mutlak. Negara penerima memiliki tanggung jawab melindungi perwakilan diplomatik negara asing, baik saat bertugas maupun saat beraktivitas sehari-hari di luar kantor.
“Masalahnya, tidak semua negara memiliki kemampuan melindungi secara penuh, apalagi jika diplomat beraktivitas di ruang publik seperti pasar atau taman,” tandasnya.

