Ekosistem Kolaboratif Optimalkan Potensi Kopi Jawa Tengah


Semarang, MBGToday.com, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah mendorong adanya transformasi sistem budidaya dan pengolahan kopi dari metode tradisional menuju pendekatan industri berbasis presisi dan berkelanjutan. 

Langkah ini, menurut Sarif, bertujuan mengangkat potensi besar kopi lokal tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya khas yang ada. 

“Apalagi, saat ini telah muncul tren kopi spesialti. Di mana konsumen semakin peduli pada kualitas biji kopi, teknik penyeduhan, dan keberlanjutan produksi,” katanya, Jumat (20/6).

Tren ini, jelasnya, membuka peluang besar bagi kopi di Jawa Tengah untuk bersaing di pasar global sekaligus mendukung petani lokal melalui praktik agrikultur berkelanjutan.

“Apalagi, selama ini, Jawa Tengah menempati posisi kedua sebagai provinsi penghasil kopi di Pulau Jawa setelah Jawa Timur,” katanya.

Dua jenis kopi, robusta dan arabika, banyak ditanam di Jateng. Sentra kopi di Jateng bertebaran di berbagai daerah.

“Jawa Tengah juga memiliki beragam aneka kopi. Dengan promosi yang tepat, kopi lokal dapat menjadi simbol budaya yang memperkuat citra daerah di pasar global,” sebut politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.

Keunikan kopi, kata Sarif, terletak pada ragam cita rasanya yang mencerminkan karakteristik geografis dan tradisi lokal. Misalnya kopi robusta Temanggung dikenal beraroma harum, sementara kopi arabikanya memiliki cita rasa khas, yaitu asam yang bertahan lama di mulut.

Untuk kopi Muria yang dikenal beraroma wangi dengan rasa khas seperti rempah-rempah dan akar-akaran. Kopi dari Brebes memilii cita rasa pahit. Di Kabupaten Boyolali juga beberapa jenis kopi endemik daerah di lereng Gunung Merapi dan Merbabu yang sering disebut kopi Nangka memiliki rasa manis mesti dikonsumsi tanpa gula.

Saat ini, jelasnya, industri kopi menghadapi peluang dan tantangan besar. Teknologi modern yang meningkatkan produktivitas dan efisiensi, pemasaran global, serta desain kemasan yang menarik menjadi kunci untuk memperkuat daya saing kopi di pasar global. 

“Inovasi ini memungkinkan produsen menghadirkan produk berkualitas tinggi dengan biaya lebih efisien, dan memastikan kopi tetap relevan baik di pasar domestik maupun internasional," terang legislator dari daerah pemilihan (dapil) Banyumas dan Cilacap ini.

Proses transformasi tersebut, jelasnya, mencakup seluruh rantai nilai kopi. Dari hulu seperti penyiapan lahan dan budidaya, hingga di hilir yaitu penyajian yang mencerminkan budaya lokal. 

Pemerintah daerah, kata Sarif, juga bisa menyelenggarakan pelatihan, pameran kopi, serta memfasilitasi akses ke pasar yang lebih luas.

“Pendekatan ekosistem kolaboratif harus dikuatkan agar pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), petani, dan barista memperoleh dampak ekonomi yang merata,” tukasnya.