Petani Perlu Dikenalkan Teknologi Pengolahan Produk Hortikultura
Temanggung, MBGtoday.com, Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Temanggung menggelar Forum Rembuk Ekonomi yang menghadirkan ahli fisika dan kimia dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.
Kepala Bapperida, Hendra Sumaryana, menjelaskan pembicara yang diundang antara lain Prof Muhammad Nur (ahli fisika), Prof Suherman (ahli kimia), dan Prof Firmansyah (ahli ekonomi).
Mereka berdiskusi dengan petani mengenai penerapan hasil penelitian untuk meningkatkan kualitas dan daya tahan produk hortikultura.
“Tujuan pertemuan ini adalah agar petani mengetahui adanya teknologi pengolahan produk hortikultura yang dapat membuat hasil panen lebih awet,” kata Hendra, Jumat (7/11).
Ia menambahkan, pertemuan ini merupakan langkah awal, dan ke depan akan ada pertemuan lebih spesifik dan praktis bagi petani. Dengan teknologi yang tepat, hasil pertanian bisa lebih tahan lama, tetap segar, dan bisa dipasarkan saat harga menguntungkan.
“Dengan teknologi khusus produk hortikultura bisa bertahan hingga 30 hari, ini tentu sangat bagus. Petani tidak lagi khawatir hasil panen busuk, dan dijual murah,” tambah Hendra.
Hendra memaparkan, meskipun lapangan pekerjaan petani di Kabupaten Temanggung mendominasi hingga 45%, namun kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) hanya 21%, di bawah industri (24%) dan perdagangan/jasa (23%).
“Sehingga ini menjadi peluang menarik untuk meningkatkan kualitas hasil pertanian sekaligus kesejahteraan petani,” ujarnya.
Prof. Muhammad Nur menjelaskan Undip telah mengembangkan teknologi pengawetan produk hortikultura berbahan alami, dikenal dengan Plasma Ozon.
“Teknologi ini bisa memperpanjang masa simpan, tetapi tidak beku. Produk tetap segar, caranya dengan membunuh bakteri yang bisa menghasilkan busuk,” terangnya.
Teknologi ini telah digunakan oleh petani di 15 provinsi, termasuk Kabupaten Magelang, Wonosobo, dan Semarang. Diharapkan, petani di Temanggung juga dapat segera menerapkannya.
“Kami mendorong petani untuk berkumpul dalam koperasi agar teknologi nanti dimanfaatkan bersama. Jadi petani harus kompak,” pungkasnya.

