Perizinan dan Tingginya Biaya Eksplorasi Jadi Tantangan Pengembangan Panas Bumi
Jakarta, MBGtoday.com, Pengembangan panas bumi masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama karena banyak potensi energi tersebut berada di kawasan konservasi.
“Ada eksplorasi yang sedang dilakukan di Dapil saya, di (kecamatan) Sekincau, Lampung Barat. Itu kapasitasnya juga potensinya cukup besar, sekitar 400 MW,” ungkap Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Putri Zulkifli Hasan dalam keterangan tertulisnya, Minggu (16/11).
Saat ini, jelasnya. masih dalam tahap perizinan karena kendala dari panas bumi ini biasanya berada dalam wilayah konservasi, seperti contohnya di Gunung Salak.
Menurutnya, aspek perizinan dan biaya eksplorasi yang tinggi membuat proses pengembangan panas bumi membutuhkan dukungan penuh dari para pemangku kepentingan.
“Sehingga ada tahap perizinan yang harus dilakukan, juga untuk biayanya, risikonya itu juga cukup besar. Kita mendorong terus agar upaya ini berjalan lancar,” ujar Politisi Fraksi PAN ini.
Dia menegaskan pentingnya percepatan pengembangan panas bumi sebagai salah satu pilar transisi menuju energi bersih Indonesia.
Putri menekankan bahwa percepatan transisi menuju energi bersih harus tetap memperhatikan keseimbangan dengan kelestarian lingkungan. Terlebih, sebagian lokasi proyek berada di area konservasi yang memiliki ekosistem sensitif.
“Tentu kita harus betul-betul menyeimbangkan transisi energi menuju clean energy, tahap eksplorasi, produksinya, keberlangsungan lingkungan hidupnya harus betul-betul kita perhatikan. Apalagi tadi berada di wilayah konservasi, di hutan lindung, berarti keanekaragaman satwa dan hayatinya itu betul-betul harus diperbaiki dan diperhatikan,” tegasnya.
Dalam kunjungan tersebut, perempuan yang kerap disapa Putri Zulhas ini juga mengapresiasi sistem pengelolaan lingkungan yang diterapkan Star Energy Geothermal di Gunung Salak. Ia menilai praktik pengelolaan limbah yang dilakukan perusahaan dapat menjadi contoh bagi pengembang panas bumi lainnya.
“Tadi dari Star Energy kebetulan mereka punya sistem pengelolaan limbah yang tertutup, jadi dia zero waste. Nanti uap panas buminya itu dimasukkan lagi ke dalam pipa sehingga bisa berproduksi kembali,” pungkasnya.

