Superflu dan Covid-19, Sama atau Beda?
Jakarta, MBGtoday.com, Istilah super flu belakangan ramai digunakan publik untuk menggambarkan super flu virus influenza A (H3N2) subclade K yang dinilai lebih cepat menular dan menimbulkan gejala lebih berat, meski istilah tersebut tidak dikenal secara resmi dalam dunia medis.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa super flu influenza hanyalah sebutan awam untuk varian influenza yang sedang mendominasi peredaran global saat ini, bukan jenis virus baru yang lebih mematikan.
Kementerian Kesehatan mencatat hingga akhir Desember 2025 terdapat 62 kasus super flu di Indonesia yang tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah tertinggi di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
“Hingga akhir Desember 2025, situasi nasional influenza A (H3N2) subclade K masih terkendali dan tidak menunjukkan peningkatan keparahan,” ujar Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI dr. Prima Yosephine, dalam rilis resmi Kemenkes, Rabu (31/12) lalu.
Mayoritas kasus super flu masuk Indonesia ditemukan pada kelompok usia anak dan perempuan berdasarkan surveilans sentinel ILI-SARI dan pemeriksaan whole genome sequencing.
Balai Besar Labkesmas Makassar juga menyebut, sering beredar klaim bahwa superflu lebih berbahaya dari COVID-19. Namun klaim ini tidak didukung data ilmiah.
Influenza A(H3N2) varian saat ini tidak menunjukkan tingkat keparahan atau fatalitas yang lebih tinggi dibandingkan COVID-19, dan alat diagnostik, serta protokol pengendalian penyakit berbeda antara keduanya.
Meskipun situasi terkendali, Kemenkes RI bersama otoritas kesehatan menyarankan masyarakat melakukan beberapa langkah pencegahan penting.
Antara lain imunisasi tahunan. Vaksin influenza tahunan tetap direkomendasikan, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit penyerta, vaksin ini bisa mengurangi risiko sakit berat dan rawat inap.
Kemudian, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti mencuci tangan dengan sabun secara rutin, menjaga etika batuk dan bersin, menggunakan masker saat gejala muncul, hindari menyentuh wajah dengan tangan kotor, serta cukup istirahat dan konsumsi gizi seimbang.
Jika mengalami demam atau batuk, sebaiknya tinggal di rumah dan menghindari kerumunan sampai gejala membaik untuk mengurangi penularan.
Selain itu, segera hubungi fasilitas kesehatan jika gejala makin berat, seperti sesak napas atau gejala pneumonia.

