Perdana Menteri Jepang Bubarkan Parlemen


Tokyo, MBGtoday.com, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi secara resmi membubarkan parlemen Majelis Rendah Jepang pada Jumat (23/1). 

Takaichi membubarkan Majelis Rendah menjelang pemilihan sela legislatif yang berlangsung pada 8 Februari mendatang.

Pemilihan sela sebenarnya diadakan ketika ada kursi majelis yang kosong di tengah masa jabatan, seperti karena anggota meninggal dunia atau mengundurkan diri. Namun, pembubaran parlemen ini mengosongkan seluruh kursi di Majelis Rendah Jepang.

Pengosongan Majelis Rendah itu disahkan dengan pembacaan surat pembubaran oleh ketua parlemen. Para anggota parlemen dilaporkan meneriakkan seruan "banzai" ketika surat selesai dibacakan.

Dengan pembubaran ini, majelis rendah yang berisi 465 legislator resmi bubar dan bersiap untuk mengadakan pemilu dalam 14 hari ke depan.

Alasan Sanae Takaichi membubarkan majelis rendah merupakan manuver politiknya guna meraih dukungan parlemen. Dalam struktur majelis rendah kini, Takaichi hanya memiliki dukungan dari mayoritas tipis anggota.

Di tengah popularitas Takaichi dalam beberapa waktu terakhir, perubahan di tubuh parlemen ini diharapkan dapat membuat Takaichi meraih suara mayoritas di parlemen.

Sebelumnya, Takaichi telah membuat anggaran belanja yang berisiko meningkatkan utang negara yang sudah sangat besar. Diperkirakan, anggaran belanja baru di bawah Takaichi melebihi 230 persen PDB tahun fiskal 2025-2026.

Takaichi juga berjanji untuk menerapkan serangkaian kebijakan pemotongan pajak untuk dua tahun demi mengurangi beban publik atas inflasi. Pemotongan pajak ini rencananya akan diterapkan untuk produk-produk makanan

Selain itu, Takaichi juga akan meneruskan kebijakan pertahanan yang proaktif dalam menangani potensi konflik dengan Cina. Sebelumnya, pada November 2025 lalu, Takaichi telah menyatakan akan terlibat jika Cina melakukan invasi militer ke Taiwan.

Pemilu sela pada 8 Februari mendatang diproyeksikan menjadi jalan Takaichi guna mendapat dukungan parlemen untuk menjalankan arah kebijakan-kebijakan tersebut. Meski begitu, banyak pihak menilai pemilu sela menjadi pertaruhan politik Takaichi.

Pertaruhan itu terjadi karena Takaichi merupakan kader Partai Demokrat Liberal (LDP), partai penguasa dalam dua dekade terakhir yang kini kehilangan pamor akibat serangkaian skandal dan korupsi.

Dengan situasi tersebut, Takaichi bertaruh dengan popularitasnya yang naik di mata publik. Kini, Takaichi memiliki tingkat kepuasan masyarakat (approval rate) sekitar 70 persen, tertinggi daripada dua pendahulunya.

Meskipun baru menjabat sekira tiga bulan setelah terpilih pada Oktober 2025 lalu, kebijakan populis Takaichi berhasil mendapatkan dukungan publik.