Gus Fahrur Siap Maju sebagai Ketua PBNU
Kediri, MBGtoday.com, Ulama muda Nahdlatul Ulama (NU), Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur, siap maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam momentum memasuki abad kedua NU.
Gus Fahrur menegaskan bahwa tantangan zaman membutuhkan pemimpin PBNU yang memiliki kemampuan komprehensif di berbagai bidang.
“Perubahan zaman tidak bisa kita hindari. Dinamika organisasi merupakan sesuatu yang lumrah. Asalkan kepentingan umat tidak diabaikan, siapapun calon Ketum PBNU nantinya kami rasa yang terbaik,” ujarnya pada wartawan, belum lama ini.
Wacana mengenai kriteria ideal calon Ketua Umum PBNU mengemuka seiring kebutuhan menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.
Sosok Ketua Umum dinilai tidak hanya harus memiliki basis pesantren dan keilmuan fiqh, tetapi juga kemampuan manajerial yang kuat, jaringan luas, serta ketegasan dalam memimpin organisasi. Posisi ini dipandang berbeda dengan Rais Aam yang lebih menitikberatkan pada aspek keulamaan.
Selain itu, calon Ketua Umum PBNU juga diharapkan memiliki visi kebangsaan yang inklusif, mampu menjaga kemajemukan, menghormati kelompok minoritas, serta menjunjung tinggi nilai toleransi.
Menurutnya, kemandirian organisasi dinilai penting agar PBNU tidak mudah terintervensi.
Gus Fahrur mengungkapkan, dirinya telah mengabdi di Nahdlatul Ulama sejak tahun 1995 atau sekitar 30 tahun.
Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua PBNU bidang keagamaan dan juga aktif di Majelis Ulama Indonesia Pusat bidang pesantren.
Dalam perjalanan organisasinya, Gus Fahrur pernah menjabat Sekretaris dan Wakil Ketua PWNU Jawa Timur hingga akhirnya dipercaya menjadi Ketua Tanfidziah PBNU bidang keagamaan periode 2022–2027 di bawah kepemimpinan Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf.
Dengan latar belakang keilmuan, pengalaman organisasi, serta jaringan luas, Gus Fahrur dikenal sebagai salah satu tokoh NU yang aktif merespons berbagai isu keagamaan, sosial, dan kebangsaan, serta menginspirasi kalangan santri untuk berperan dalam berbagai bidang, termasuk ekonomi dan investasi.
Berdasarkan pantauan, kesiapan Gus Fahrur maju sebagai Ketum PBNU mendapatkan respon menarik, dianggap menjadi poros yang patut diperhitungkan.
Pandangan Gus Fahrur, terkait dengan sikap patuh kepada para masyayikh atau kiai sepuh, sebagai salah satu prinsip utama yang harus dipegang dalam pengambilan keputusan, menunjukkan kematangannya, tentu saja terkait beberapa aspek strategis, posisi sudah seharusnya Ketua Umum PBNU yang menentukan.

