Siapkan Langkah Antisipatif Hadapi Kemarau
Semarang, MBGtoday.com, Pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota di Jawa Tengah diminta untuk segera menyiapkan langkah antisipatif mengenai potensi musim kemarau yang datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang pada tahun ini.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah mengatakan, pemerintah tidak boleh menunggu hingga dampak kemarau mulai terasa di lapangan.
“Perencanaan mitigasi harus dilakukan sejak dini agar potensi risiko seperti kekeringan, krisis air bersih, hingga gangguan sektor pertanian dapat diminimalisir,” ungkapnya.
Kakung, sapaan akrab Sarif Abdillah mencontohkan, pada tahun 2025 lalu, ratusan desa di Kabupaten Cilacap kekurangan air bersih saat musim kemarau datang.
“Karena itu sudah dari sekarang perlu dilakukan pemetaan maupun mitigasi yang terencana dan koordinasi yang kuat. Jangan kemudian berkembang menjadi krisis yang merugikan masyarakat,” sebut politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.
Pengalaman tahun sebelumnya, jelas Kakung, harus menjadi acuan dalam berbagai antisipasi, seperti menyiapkan kebutuhan air bersih bagi masyarakat.
“Peringatan yang sudah disampaikan BMKG harus menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk memperkuat koordinasi lintas sektor, khususnya dalam pengelolaan sumber daya air, kesiapan infrastruktur, serta perlindungan terhadap masyarakat di wilayah rawan kekeringan,” jelasnya.
Pemerintah daerah, menurutnya, perlu memastikan ketersediaan cadangan air melalui optimalisasi waduk, embung, dan jaringan irigasi yang ada.
“Selain itu, program distribusi air bersih di wilayah rawan kekeringan juga harus dipersiapkan sejak sekarang, jangan menunggu situasi darurat,” tegas legislator dari daerah pemilihan (dapil) Banyumas dan Cilacap ini.
Penanganan ancaman kekeringan ini, kata Kakung, juga perlu melibatkan berbagai pihak, seperti organisasi kemasayarakat, hingga sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Selain mengimbau masyarakat agar bijak dalam menggunakan air, Kakung juga mengajak pemerintah desa untuk aktif melaporkan jika mulai terjadi kekurangan air bersih agar bantuan bisa segera disalurkan.
"Dengan kesiapan tersebut, diharapkan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung,” tandasnya.

