BRIN Dorong Hilirisasi Logam Tanah Jarang
Jakarta, MBGtoday.com, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat peran strategisnya dalam mendorong hilirisasi sumber daya mineral melalui pengembangan logam tanah jarang (LTJ).
Di tengah meningkatnya kebutuhan global akan LTJ untuk industri teknologi tinggi, Indonesia justru masih bergantung pada impor, meski memiliki potensi sumber daya yang melimpah.
Peneliti Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN, Heru Agung Saputra, mengungkapkan bahwa potensi LTJ Indonesia tersebar di berbagai wilayah seperti Bangka Belitung, Mamuju, hingga Kalimantan.
Namun selama ini, mineral pembawa LTJ seperti monasit dan senotim masih dijual dalam bentuk bahan mentah dengan nilai ekonomi yang relatif rendah.
Menurut Heru, kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi BRIN untuk meningkatkan nilai tambah melalui riset ekstraksi dan pemurnian.
“Jika proses pengolahan dapat dilakukan di dalam negeri, nilai ekonominya akan jauh lebih tinggi dibandingkan hanya menjual bahan mentah,” ujar Heru dalam keterangan tertulisnya, Minggu (19/4).
Melalui riset yang tengah dikembangkan, tim peneliti BRIN ini telah berhasil memisahkan sejumlah unsur LTJ secara individual dari mineral monasit dan senotim.
Unsur-unsur ini memiliki peran penting dalam berbagai aplikasi strategis, seperti katalis industri, magnet permanen, hingga komponen elektronik pada telepon genggam, kamera, dan layar LCD. Selain itu, LTJ juga menjadi komponen kunci dalam pengembangan baterai serta teknologi pertahanan.
Saat ini, fokus riset masih berada pada tahap eksplorasi dan ekstraksi mineral. Namun, langkah menuju hilirisasi mulai diperkuat dengan pengembangan aplikasi LTJ pada baterai dan sensor kimia.
BRIN juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pusat riset lain dan perguruan tinggi, guna memperluas pemanfaatan LTJ di berbagai sektor teknologi.
“Untuk aplikasi lainnya masih terus kami eksplorasi, kami membuka peluang kolaborasi dengan pusat riset lain maupun universitas agar pemanfaatannya bisa lebih luas” ujar Heru.
Heru menegaskan bahwa penguatan riset LTJ ini sejalan dengan agenda hilirisasi mineral nasional. Dengan pengolahan yang terintegrasi di dalam negeri, Indonesia berpeluang besar bertransformasi dari sekadar pemasok bahan mentah menjadi produsen teknologi bernilai tinggi yang kompetitif di pasar global.

