Inovasi Kultivar Tanaman Hias melalui Strategi Mutasi
Jakarta, MBGtoday.com, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong inovasi kultivar tanaman hias melalui strategi mutasi guna menghasilkan varietas baru yang bernilai ekonomi tinggi dan sesuai dengan preferensi pasar.
Hal tersebut disampaikan Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Hortikultura BRIN, Sri Rianawati, dalam Webinar HortiActive #25, Rabu (22/4).
Dalam paparannya, Sri menekankan inovasi tanaman hias sangat dipengaruhi oleh preferensi pasar yang dinamis. Tren seperti variegata, warna daun gelap, hingga tekstur unik menjadi faktor utama dalam pengembangan varietas baru.
“Dalam tanaman hias, keunikan lebih penting daripada produktivitas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perubahan karakter tanaman dapat diperoleh melalui mutasi, baik yang terjadi secara alami maupun yang diinduksi menggunakan agen kimia atau fisik. Teknik mutasi terinduksi, seperti penggunaan sinar-X, sinar gamma, maupun bahan kimia tertentu, telah lama dimanfaatkan dalam program pemuliaan tanaman untuk menghasilkan variasi baru.
Menurutnya, mutasi dapat memengaruhi berbagai aspek biologis tanaman, mulai dari kerusakan DNA, kesalahan replikasi, hingga perubahan ekspresi gen. Dampak tersebut kemudian memunculkan variasi fenotip, termasuk perubahan warna daun yang menjadi daya tarik utama tanaman hias.
Misalnya, inhibisi pada jalur klorofil dapat menghasilkan warna putih atau kuning, sementara perubahan pada jalur antosianin dan karotenoid memunculkan variasi merah, ungu, hingga oranye.
Lebih lanjut, Sri mengungkapkan fenomena yang kerap dianggap “ketidaksempurnaan” justru dapat menjadi sumber inovasi bernilai ekonomi tinggi. Tanaman dengan pola warna tidak lazim atau variegata, misalnya, memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan tanaman normal.
Dalam proses pengembangannya, deteksi mutasi dapat dilakukan menggunakan metode molekuler seperti TILLING (Targeting Induced Local Lesions in Genomes), yang memungkinkan identifikasi perubahan genetik tanpa harus menunggu munculnya perubahan fenotip.
Selain itu, berbagai penanda berbasis PCR seperti RAPD, ISSR, SSR, dan AFLP juga digunakan untuk meningkatkan akurasi seleksi mutan.
Ia juga menyoroti pentingnya integrasi mutasi dengan pendekatan modern, seperti transkriptomik dan metabolomik, guna memahami perubahan yang terjadi secara lebih komprehensif. Pendekatan ini dinilai mampu mempercepat proses seleksi sekaligus mengidentifikasi marker genetik untuk sifat ornamental.
Dalam konteks Indonesia, Sri Rianawati menegaskan pengembangan kultivar lokal menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap varietas impor. Indonesia dinilai memiliki potensi besar dari sisi plasma nutfah tropis, namun masih membutuhkan inovasi dalam perakitan varietas unggul.
“Kita bukan kekurangan tanaman, tetapi masih kurang inovasi varietas,” tegasnya.
Ia menambahkan, pemanfaatan kultur in vitro dapat mempercepat proses seleksi dan produksi massal kultivar baru. Kombinasi antara mutasi dan teknik kultur jaringan dinilai mampu menjadi akselerator inovasi dalam industri tanaman hias.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi, seperti ketidakstabilan mutasi, kesulitan menjaga uniformitas, serta perlindungan varietas tanaman. Selain itu, kesenjangan antara hasil penelitian di laboratorium dan implementasi di industri juga menjadi perhatian yang perlu dijembatani melalui kolaborasi riset dan bisnis.
Sri Rianawati menekankan mutasi tidak sekadar teknik pemuliaan, melainkan sumber kreativitas dalam menciptakan inovasi tanaman hias. Ke depan, teknologi seperti CRISPR-Cas9 menawarkan alternatif yang lebih presisi, meski masih menghadapi tantangan biaya dan regulasi.
“Inovasi tanaman hias tidak selalu dimulai dari kesempurnaan, tetapi dari keberanian melihat potensi dalam ketidaksempurnaan,” pungkasnya.

