Budaya dan Toleransi Jadi Fondasi Penting Bangun Citra Salatiga
Salatiga, MBGtoday.com, Pemerintah Kota Salatiga, Jawa Tengah bersama jajaran Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, membahas pengajuan sejumlah lokasi strategis untuk ditetapkan sebagai cagar budaya, di antaranya Gedung Pakuwon dan bangunan Rumah Dinas Wali Kota.
Hal itu terungkap saat Wali Kota Salatiga Robby Hernawan menerima kunjungan Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, dalam agenda visitasi kebudayaan, di Rumah Dinas Wali Kota.
Robby menyampaikan, pertemuan yang berlangsung di Rumah Dinas Wali Kota itu menjadi momentum penting, untuk memperkuat langkah pelestarian cagar budaya dan identitas sejarah kota.
“Kota Salatiga memiliki kekayaan sejarah yang luar biasa. Pelestarian cagar budaya bukan hanya menjaga bangunan lama, tetapi menjaga identitas, memori kolektif, dan jati diri masyarakat agar tetap hidup lintas generasi,” ujar Robby, Sabtu (9/5).
Dia menambahkan, pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan pengembangan pendidikan, pariwisata, dan ekonomi kreatif agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kami ingin warisan sejarah di Salatiga tidak hanya dikenang, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran, kebanggaan, dan penggerak ekonomi budaya. Karena itu, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah sangat penting, untuk memperkuat perlindungan situs-situs bersejarah ini,” tambahnya.
Sebelumnya, rangkaian visitasi dimulai dengan peninjauan sejumlah situs bersejarah yang didampingi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kepala Dinas Pendidikan, serta para pamong budaya Kota Salatiga.
Kunjungan diawali di Gedung Pakuwon yang berada di kawasan Alun-Alun Pancasila Salatiga. Lokasi tersebut disinyalir memiliki kaitan erat dengan sejarah penandatanganan Perjanjian Salatiga. Saat ini, tim terkait masih melakukan pengkajian untuk memastikan titik pasti berlangsungnya peristiwa tersebut.
Rombongan kemudian melanjutkan kunjungan ke Museum Salatiga atau Museum Plumpungan, guna melihat langsung Prasasti Plumpungan yang menjadi bukti autentik awal berdirinya Kota Salatiga. Berbagai koleksi arca dan artefak batu peninggalan masa lalu juga turut diobservasi, sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah.
Sebagai penutup rangkaian visitasi, rombongan meninjau Dewan Kerajinan Nasional Daerah Kota Salatiga, untuk melihat potensi pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Agenda kemudian ditutup dengan kunjungan ke Kelenteng Hok Tek Bio yang menjadi simbol keberagaman dan kerukunan masyarakat Kota Salatiga.
Menurut Robby, kekuatan budaya dan toleransi merupakan fondasi penting dalam membangun citra Salatiga sebagai kota yang harmonis dan berdaya saing.
“Budaya adalah perekat kebangsaan. Ketika warisan sejarah kita rawat bersama, maka semangat persatuan, toleransi, dan kecintaan terhadap daerah juga akan tumbuh semakin kuat,” pungkasnya.

