Nublek Kopi, Tradisi Wujud Syukur Petani Jelang Panen Raya


Temanggung, MBGtoday.com, Warga Desa Gununggempol, Kecamatan Jumo, Temanggung, Jawa Tengah berkumpul di tengah hamparan kebun kopi, Rabu (20/5) pagi.  

Sejumlah warga berdatangan membawa tampah dan tenong berisi nasi megono, menuju lokasi ritual di sepanjang jalan desa di tepi kebun kopi.

Suasana itu menjadi penanda dimulainya tradisi sadranan atau “Nublek Kopi”, tradisi turun-temurun masyarakat petani kopi di Temanggung bagian utara. 
Tradisi tersebut digelar sebagai bentuk rasa syukur menjelang musim petik kopi, dan dimulai panen raya kopi.

Ritual diawali dengan prosesi “tembung”, yakni penyampaian maksud dan tujuan dilaksanakannya tradisi Nublek Kopi.

Sesepuh Desa Gununggempol, Saryono (76) mengatakan, tradisi Nublek Kopi telah dilaksanakan masyarakat setempat sejak puluhan tahun silam, sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil bumi yang diberikan.

“Tradisi ini sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas kesuburan tanah, melimpahnya sumber air dan hasil pertanian yang baik. Selain itu, juga sebagai doa agar panen kopi tahun ini diberi kelancaran dan hasil yang melimpah,” katanya.

Menurut Saryono, tradisi tersebut juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga, sekaligus menjaga warisan budaya leluhur agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

“Kalau tradisi seperti ini tidak dijaga, generasi muda nanti bisa melupakan budaya desa sendiri. Karena itu kami terus melibatkan anak-anak dan pemuda, dalam setiap kegiatan adat,” ujarnya.

Ditambahkan, usai doa bersama yang dipimpin ulama setempat dan diikuti warga dengan penuh khidmat, warga menggelar makanan yang dibawa dari rumah di atas daun pisang untuk disantap bersama.

Suasana penuh keakraban tampak saat warga makan bersama, sambil bercengkerama dan saling berbagi makanan. Gelak tawa warga sesekali terdengar di sela-sela kegiatan tersebut.

Kepala Desa Gununggempol, Eko Wasono mengatakan, tradisi Nublek Kopi tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menjadi bagian dari identitas desa penghasil kopi Robusta di wilayah lereng pegunungan Temanggung.

“Mayoritas masyarakat di sini merupakan petani kopi Robusta. Tradisi Nublek Kopi menjadi bentuk penghormatan terhadap alam, sekaligus pengingat agar masyarakat tetap menjaga kelestarian lingkungan,” tuturnya.

Eko menambahkan, Desa Gununggempol selama ini juga dikenal sebagai desa percontohan konservasi lingkungan, dengan aturan larangan perburuan burung di wilayah desa.

“Kami berupaya menjaga keseimbangan alam, karena keberlangsungan pertanian kopi juga sangat bergantung pada ekosistem yang baik,” tandasnya.

Usai acara makan bersama, sesepuh desa bersama sejumlah perwakilan warga menuju kebun kopi untuk melaksanakan ritual wiwit atau memetik kopi perdana, sebagai simbol dimulainya musim panen kopi 2026.

Selain Nublek Kopi, masyarakat Desa Gununggempol hingga kini masih rutin melestarikan berbagai tradisi budaya lain, seperti nyadran pada bulan Ruwah dan nyadran kali sebagai bentuk penghormatan terhadap alam dan leluhur.