Wukuf di Arafah, Merenungi Hakikat Penciptaan Manusia
Makkah, MBGtoday.com, Lebih dari 1,5 juta jemaah Muslim berkumpul di Gunung Arafat, Arab Saudi, untuk menjalani wukuf yang menjadi puncak ibadah haji.
Sejak pagi hingga matahari terbenam, para jemaah yang mengenakan pakaian ihram memanjatkan doa dan memohon ampunan di Padang Arafah, hari yang dianggap paling suci dalam Islam.
Suasana haru terasa saat para jemaah mendaki Bukit Al Rahmah, tempat Nabi Muhammad menyampaikan khutbah terakhirnya.
Wukuf di Arafah merupakan salah satu rukun haji yang harus dilakukan oleh setiap jamaah agar ibadah hajinya sah.
Maka jamaah haji meski dalam kondisi apapun harus berwukuf, yaitu melakukan Safari Wukuf biasanya diantar mobil dan jamaah berada di dalam mobil melewati atau mampir di Arafah
Secara harfiah wukuf berarti berdiam diri. Wukuf di Arafah adalah berada di Arafah pada waktu antara tergelincirnya matahari (tengah hari) tanggal 9 Dzulhijah sampai matahari terbenam dengan berpakaian ihram.
Pada saat wukuf disarankan untuk memperbanyak doa sambil menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan. Juga memperbanyak taubat memohon ampunan Allah SWT.
Sebab saat wukuf adalah saat yang utama untuk berdoa, memohon ampun dan bertaubat. Selain itu juga perbanyak ibadah lainnya seperti membaca Al Qur`an, takbir, tahmid, tahlil.
Wukuf di Arofah, bagaikan Miniatur Padang Mahsyar. Di mana Jutaan jamaah yang berkumpul di satu tempat Padang Arafah dengan pakaian ihram putih yang sama.
Kain Ihram putih yang dipakainya mengandung makna filosofisnya menghapus sekat status sosial, kekayaan, suku, dan bangsa.
Dalam konteks ibadah haji, wukuf bermakna berhenti sejenak dari segala aktivitas dan kesibukan duniawi untuk berkumpul di Padang Arafah, lalu memusatkan diri sepenuhnya pada doa, dzikir, dan perenungan hidup manusia kepada Allah SWT.
Di tempat ini, jamaah diajak merenungi hakikat penciptaan manusia, mengakui segala dosa, dan mengenal Allah SWT sebagai Sang Pencipta, Allah SWT.
Menteri Haji dan Umrah Moch. Irfan Yusuf, menegaskan bahwa wukuf di Arafah menjadi momentum spiritual sekaligus tonggak baru pelayanan haji Indonesia yang lebih fokus, inklusif, dan berkeadaban.
“Hari ini kita berada di Arafah. Di tempat yang mulia ini, jutaan manusia datang dengan pakaian yang sama, doa yang sama, dan harapan yang sama. Semua menundukkan diri di hadapan Allah SWT,” ujar Menhaj.
Sementara itu, KH Asep Saifuddin Chalim, menyampaikan khutbah wukuf pada puncak pelaksanaan ibadah haji 1447 H/2026 M di Arafah.
Dalam khutbahnya, KH Asep Saifuddin Chalim mengajak seluruh jemaah haji Indonesia memaknai ibadah haji sebagai pengingat tentang kesetaraan manusia di hadapan Allah SWT serta pentingnya menjaga ketakwaan dalam kehidupan.
“Manusia itu sama. Ketika tawaf, kita diingatkan tentang perputaran kehidupan di dunia, termasuk jabatan yang tidak selalu ada. Semua datang dan pergi,” ujar KH Asep.
Ia menegaskan bahwa seluruh manusia akan menghadapi berbagai ujian dan tantangan kehidupan. Karena itu, setiap muslim harus terus berupaya menjaga ketakwaan kepada Allah SWT.
“Kita harus terus berupaya keras untuk senantiasa bertakwa kepada Allah. Dalam hidup akan ada banyak tantangan, tetapi semua itu harus bisa diatasi. Itulah ekstraksi dari sa’i, ada perjuangan, kesungguhan, dan keyakinan kepada pertolongan Allah,” katanya.

