Berantas Pemalsuan Pangan, Dorong Integrasi Teknologi dan AI
Bandung, MBGtoday.com, Praktik pemalsuan pangan (food fraud) dan penggunaan bahan berbahaya masih menjadi ancaman serius bagi kualitas produk serta keamanan konsumen.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Kecerdasan Artifisial dan Keamanan Siber (PRKAKS) mendorong pemanfaatan teknologi modern berbasis kecerdasan artifisial (AI), sensor pintar, hingga Internet of Things (IoT) dalam sistem keamanan pangan.
Hal tersebut disampaikan Peneliti Ahli Muda PRKAKS BRIN, Agustami Sitorus saat menerima kunjungan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Pasundan (UNPAS) di KST Samaun Samadikun, belum lama ini.
Menurut Agustami, praktik pemalsuan pangan kini semakin kompleks dengan berbagai modus, mulai dari pencampuran bahan (adulterasi), penggantian bahan utama dengan alternatif yang lebih murah (substitusi), hingga ketidaksesuaian informasi pada label produk (mislabeling).
“Permasalahan ini memerlukan pendekatan teknologi yang mampu mengidentifikasi kualitas dan keaslian produk secara objektif dan cepat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perkembangan inovasi saat ini memungkinkan evaluasi produk dilakukan secara non-destruktif, yakni tanpa membuka ataupun merusak kemasan produk. Teknologi tersebut mengintegrasikan berbagai metode modern seperti sensor pintar, spektroskopi, pengolahan citra (image processing), AI, dan machine learning.
Menurut Agustami, integrasi AI, machine learning, IoT, pencitraan canggih, serta sensor berbasis nanomaterial diyakini mampu meningkatkan efektivitas inspeksi pangan sekaligus menciptakan sistem keamanan pangan yang lebih modern dan terpercaya.
Ia merinci, AI dan machine learning dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan analisis dan prediksi dalam teknologi non-destruktif. Sementara itu, sensor multimodal digunakan untuk menggabungkan berbagai metode penginderaan agar evaluasi produk menjadi lebih komprehensif.
Selain itu, penerapan IoT memungkinkan pemantauan secara berkelanjutan di seluruh rantai pasokan pangan. Teknologi pencitraan hyperspectral juga dinilai efektif mendeteksi cacat maupun kontaminasi yang tidak terlihat secara kasatmata.
“Teknologi berbasis nanomaterial juga sangat potensial untuk menghasilkan sensor dengan sensitivitas tinggi dalam mendeteksi kontaminan,” jelasnya.
Agustami menambahkan, tren pengembangan teknologi gabungan tersebut menjadi peluang riset masa depan dalam mendukung kualitas dan integritas produk pertanian serta pangan nasional.
Menurutnya, otomatisasi berbasis AI akan merevolusi metode pengujian konvensional menjadi sistem inspeksi cerdas yang lebih menyeluruh, efisien, dan akurat di sepanjang rantai pasokan.
Ia juga menekankan pentingnya kunjungan ilmiah sebagai sarana memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan lembaga riset nasional dalam membangun budaya riset di lingkungan akademik.
Mahasiswa diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung mengenai penerapan teknologi dalam riset serta memahami kontribusi inovasi terhadap penyelesaian persoalan di masyarakat, khususnya pada sektor pangan.

