Revitalisasi Stasiun Tawang, Tak Sekadar Sarana Transportasi Tapi Heritage


Semarang, MBGtoday.com, PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus melakukan pelestarian bangunan bersejarah melalui program revitalisasi aset cagar budaya. Salah satu yang telah direvitalisasi ialah Stasiun Tawang Semarang, ikon transportasi sekaligus bangunan bersejarah di Ibu Kota Jawa Tengah.

Stasiun Semarang Tawang dibangun oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) pada 1911 dan mulai beroperasi pada 1914. Bangunan rancangan arsitek Belanda Sloth-Blauwboer tersebut, telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, mengatakan perusahaan saat ini mengelola lebih dari 600 bangunan cagar budaya yang tersebar di berbagai daerah. 

Dari jumlah tersebut, sebanyak 120 bangunan masuk dalam program revitalisasi sebagai upaya pelestarian sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat.

"Perlu kami laporkan bahwa PT KAI mengelola lebih dari 600 bangunan cagar budaya, yang mana sebanyak 120 di antaranya masuk ke dalam program revitalisasi untuk edukasi," kata Bobby saat peresmian revitalisasi tahap pertama Stasiun Tawang Semarang, Kamis (30/7).

Peresmian dilakukan langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto.

Menurut Bobby, revitalisasi tahap pertama Stasiun Tawang dikerjakan selama 240 hari dengan fokus pada pemulihan fasad depan serta sisi barat dan timur bangunan.

Revitalisasi dilakukan untuk menjaga kelestarian stasiun yang telah berusia 112 tahun sekaligus mempertahankan nilai sejarahnya sebagai salah satu ikon perkeretaapian nasional.

"Bagian fasad depan, sisi barat, dan sisi timur kami kembalikan lagi ke bentuk semula. Kami mendapat referensinya dari foto-foto lama sehingga lampu dan ornamen yang ada bisa dikembalikan untuk menjaga kelestarian dan sejarahnya," ujarnya.

Selain Stasiun Tawang, PT KAI juga menyiapkan revitalisasi sejumlah stasiun bersejarah lainnya, seperti Stasiun Jakarta Kota, Stasiun Tanjung Priok, dan Stasiun Bogor. Seluruh revitalisasi dilakukan dengan konsep mengembalikan tampilan bangunan mendekati bentuk aslinya.

Seusai peresmian, Gubernur Ahmad Luthfi mengatakan, Stasiun Semarang Tawang tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi kereta api, tetapi juga bangunan bersejarah yang harus dijaga kelestariannya.

“Stasiun Tawang ini adalah heritage, di samping tempat transportasi kereta api,” kata Luthfi.

Setali tiga uang, Presiden Prabowo menyatakan, revitalisasi stasiun-stasiun bersejarah merupakan bagian dari upaya melestarikan warisan bangsa.

Prabowo mengapresiasi langkah cepat PT KAI dalam merevitalisasi Stasiun Semarang Tawang. Pemugaran dilakukan dengan tetap mempertahankan karakter asli dan nilai sejarah bangunan.

Revitalisasi tahap pertama dikerjakan selama 240 hari, mulai 5 Mei hingga 30 Desember 2025. Pekerjaan meliputi penataan ruang tunggu luxury, ruang VIP, aula utama, selasar, serta peningkatan sistem drainase untuk mengantisipasi genangan dan banjir rob.

Pemugaran juga dilakukan untuk mengembalikan fasad stasiun sesuai rancangan aslinya. Proses tersebut melibatkan tim ahli cagar budaya, agar pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan pelestarian bangunan bersejarah.

Setelah meresmikan revitalisasi Stasiun Semarang Tawang, Ahmad Luthfi lanjut mendampingi Presiden Prabowo dalam perjalanan menuju Kabupaten Batang menggunakan KA Nusantara Explorer.