Hibridasi Wayang Kontemporer Hadirkan Wajah Baru Seni Pewayangan


Klaten, MBGtoday.com, Seni pewayangan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah dikemas dengan sentuhan baru melalui Hibridasi Pagelaran Wayang Kontemporer yang memadukan wayang kulit dan wayang orang dalam satu pertunjukan. 

Mengambil lakon Sang Gatotkaca, pagelaran di Alun-Alun Klaten, Rabu (19/8) lalu, menghadirkan pengalaman berbeda dalam menikmati seni pewayangan.

Pagelaran tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-222 Klaten dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Pertunjukan dikemas dengan memadukan seni tradisi, tata cahaya, visual panggung, serta atraksi teatrikal.

Wayang kulit yang biasanya dimainkan di balik kelir dengan pencahayaan blencong, dalam pagelaran ini ditampilkan menggunakan layar proyektor. Visual yang lebih berwarna berpadu dengan permainan cahaya panggung dan penampilan wayang orang sehingga menghadirkan sajian pewayangan dengan nuansa berbeda.

Pertunjukan wayang kulit dimainkan oleh dalang asli Klaten, yakni Ki Suluh Juniarsih, Ki Sigit Sukasman, dan Ki Bayu Aji. Penampilan mereka disandingkan dengan para pelakon wayang orang dalam alur cerita yang sama.

Seniwati senior Indonesia, Suyati atau yang akrab dikenal sebagai Yati Pesek, turut tampil dan memberikan warna dalam pertunjukan tersebut.

Hibridasi juga terlihat dari keterlibatan puluhan sinden Klaten serta para seniman dari berbagai bidang. Sebanyak 222 seniman Klaten terlibat dalam pagelaran, terdiri atas dalang, pangrawit, sinden, pengiring musik, penari, serta pelakon wayang orang.

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo mengapresiasi kolaborasi para seniman dan budayawan dalam pagelaran tersebut.

“Kolaborasi yang luar biasa dari para seniman dan budayawan. Ini menjadi kado yang indah bagi Hari Jadi Klaten yang ke-222,” ungkapnya.

Salah satu atraksi yang menjadi kejutan bagi penonton adalah kemunculan tokoh Gatotkaca yang turun dari atas backdrop seolah melayang di udara. Atraksi tersebut menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian penonton dalam pertunjukan.

Hamenang mengatakan, pagelaran tersebut tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga bagian dari upaya meneguhkan identitas Klaten sebagai Kota Dalang dan Kota Wayang.

Ia berharap kemasan seni pewayangan yang lebih kreatif dapat menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kembali seni tradisi kepada generasi muda.

“Ke depan dengan adanya kegiatan seni yang baru ini kemudian bisa semakin menarik generasi muda kita untuk kemudian tertarik menekuni dan melihat kembali kemudian ikut melestarikan seni budaya yang luar biasa ini,” paparnya.

Melalui hibridasi wayang kulit, wayang orang, musik, tata cahaya, visual panggung, dan atraksi teatrikal, seni pewayangan Klaten ditampilkan dalam kemasan yang tetap berpijak pada tradisi, sekaligus menawarkan pengalaman pertunjukan yang berbeda bagi penonton.