Tenun Troso Jepara Bidik Pasar Luar Jawa


Tangerang, MBGtoday.com, Untuk memperkenalkan produk unggulannya, Pemerintah Kabupaten Jepara menampilkan tenun Troso, kerajinan, kaligrafi, makanan khas, dan kopi pada ajang Apkasi Otonomi Expo (AOE) 2026, di BSD Tangerang.

Kepala Disperindag Kabupaten Jepara, Anjar Jambore Widodo mengatakan, pameran tersebut dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk Jepara kepada daerah lain. Pihaknya juga menjajaki kerja sama perdagangan dengan sejumlah daerah di luar Jawa.

“Kami akan berusaha mendekati stan-stan kabupaten di luar Jawa. Itu target kami,” ujarnya, Jumat (28/8).

Disampaikan, penjajakan tersebut akan dilanjutkan setelah pameran. Pihaknya akan menyiapkan pendampingan bagi IKM binaan, yang memperoleh peluang pesanan.

Pembeli tenun Troso, Susanto mengaku baru mengetahui tenun khas Jepara, setelah melihat produknya di sebuah pameran di BSD, Tangerang. Menurutnya, kain tersebut, memiliki karakter corak yang khas. Dia juga tertarik melihat nilai warisan budaya pada produk tersebut.

“Tenun Jepara ini bagus sekali. Tadi saya merasakan langsung, halus bahannya, enak, nyaman di kulit. Saya kira ini heritage yang bagus, sehingga saya beli,” akunya.

Pengunjung lainnya, Agung dari HIPMI Kota Bandung, juga mengaku baru mengetahui produk tenun Jepara.

“Saya baru tahu, ternyata Jepara memiliki kain tenun yang luar biasa,” tuturnya.

Perajin tenun Troso, Nadya Anjani menyampaikan, pada pameran AOE kali ini, dirinya membawa sejumlah motif untuk diperkenalkan. Salah satunya motif Bulu Perindu, yang memanfaatkan limbah kain tenun. Ada pula motif Bahari, yang terinspirasi dari jaring penangkap ikan.

Menurut Nadya, proses pembuatan satu helai kain membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat bulan.

“Satu helai kain, prosesnya bisa kurang lebih tiga sampai empat bulan, untuk satu motif kain tenun,” kata Nadya.

Disampaikan, produk tenun miliknya selama ini dipasarkan melalui sejumlah pameran. Di antaranya, Inacraft dan melalui Dekranasda Jepara.

Nadya menambahkan, pengembangan produksi membutuhkan penguatan kapasitas penenun. Karenanya, dia berharap ketersediaan tenaga penenun dapat menjadi salah satu perhatian, dalam mengembangkan sejumlah motif.