Dieng Jadi Proyek Percontohan Pariwisata Berbasis Indikasi Geografis
Banjarnegara, MBGtoday.com, Kawasan Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, menjadi proyek percontohan nasional pertama pengembangan Geographical Indication Tourism (GI Tourism), alias pariwisata berbasis Indikasi Geografis (IG).
Melalui konsep tersebut, wisatawan tidak hanya datang untuk membeli produk khas Dieng. Mereka juga dapat mengenal asal-usul produk, melihat proses produksi, berinteraksi dengan petani, dan merasakan kearifan lokal.
Ketua Tim Kerja Pemanfaatan, Utilisasi dan Pengawasan Indikasi Geografis Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), Kementerian Hukum Republik Indoneisa, Irma Mariana mengatakan, konsep tersebut mengubah produk Indikasi Geografis, agar berdampak ekonomi bagi masyarakat lokal.
“Ini merupakan upaya mengubah sebuah produk indikasi geografis menjadi pengalaman (wisata), yang pada akhirnya akan memberikan dampak ekonomi, kepada masyarakat lokalnya,” kata Irma, dalam keterangan tertulisnya, Senin (31/8).
Menurutnya, pengembangan GI Tourism di Dieng dilakukan dengan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku ekonomi kreatif, sektor pariwisata, dan masyarakat lokal.
“Masyarakat datang ke Dieng, ada experiences, bertemu petani, membeli produk, maka mereka akan memiliki story atau cerita terhadap produk tersebut,” terangnya.
Dieng memiliki tiga produk Indikasi Geografis unggulan, yakni Kopi Arabika Pegunungan Dieng Banjarnegara, Carica Dieng, dan Purwaceng Dieng. Karakter produk tersebut terbentuk dari kondisi geografis dan budaya setempat.
Irma mengatakan, GI Tourism juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pelindungan kekayaan intelektual. Selain produk Indikasi Geografis, pihaknnya mendorong perlindungan terhadap karya lain, seperti acara budaya, seni pertunjukan, dan gastronomi lokal.
Bupati Banjarnegara, Amalia Desiana, mengapresiasi terpilihnya Dieng sebagai lokasi pertama pengembangan GI Tourism nasional.
“Festival kopi ini luar biasa dan dihadiri perwakilan dari seluruh Indonesia. Banjarnegara, yang tadinya tidak masuk dalam daftar, pada akhirnya terpilih menjadi yang pertama untuk GI Tourism. Ini semua dituntun oleh niat bersama, untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ungkap Bupati Amalia.
Menurutnya, cerita di balik produk dan keunikan cita rasa kopi dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata, sekaligus memperkenalkan potensi daerah.
“Dulu saya pikir kopi itu hanya pahit. Namun setelah mengenal cerita di baliknya, interaksi dengan petani, hingga memahami perbedaan rasa dari tiap wilayah tanam, kita menyadari betapa kayanya potensi ini. Jika kita kompak dan saling menguatkan antarwilayah, kopi dapat membawa nama baik Indonesia. Pemerintah Kabupaten Banjarnegara berkomitmen penuh untuk terus mendukung hal positif seperti ini,” bebernya.

