Dinamika Laut Tiga Dimensi Ungkap Pergerakan Biota hingga Mikroplastik ke Laut Dalam
Jakarta, MBGtoday.com, Lautan acap kali hanya dipandang sebagai hamparan air luas yang memisahkan daratan.
Namun, di balik permukaannya, laut menyimpan sistem tiga dimensi yang sangat kompleks dan saling memengaruhi, mulai dari interaksi pergerakan arus, dinamika kolom air, hingga akumulasi material di dasar samudra terdalam.
Pemahaman yang terfragmentasi sering kali membuat manusia luput melihat bahwa sekecil apa pun perubahan atau polutan di permukaan akan membawa dampak berantai hingga ke palung laut.
Karena itu, pemahaman terhadap laut tidak dapat dibatasi pada kondisi permukaan. Sistem laut perlu dipelajari sebagai ekosistem tiga dimensi yang menghubungkan atmosfer, permukaan laut, kolom air, organisme, hingga dasar laut.
"Apa yang terjadi di permukaan tidak selalu tetap berada di permukaan. Menjelajahi laut dalam seharusnya tidak hanya berarti pergi lebih dalam, melainkan memahami koneksi antara atmosfer, lautan permukaan, kolom air, organisme laut, dan dasar laut," ujar A’an Johan Wahyudi, Kepala Pusat Riset Laut Dalam (PRLD) BRIN dalam Deep-Sea Science Forum (DSSF) bertajuk "Toward Deep Sea Mission 2045" pada Selasa (1/9).
Pada kesempatan tersebut, A’an menekankan bahwa arus laut mengangkut panas, nutrisi, hingga organisme melintasi jarak yang luas. Namun di saat yang sama, sirkulasi tersebut juga mengangkut material buatan manusia seperti plastik.
Keterhubungan sistem ini dibuktikan melalui riset terkait biologi perikanan yang dipaparkan oleh peneliti Departemen Polisi Maritim dan Sistem Produksi, Gyeongsang National University, Myounghee Kang.
Melalui analisis akustik dan lingkungan di Samudra Hindia Barat, Kang menemukan bahwa kondisi fisik laut, khususnya lapisan termoklin (area dengan perubahan suhu dan densitas air secara drastis), sangat menentukan distribusi biomassa zooplankton. Konsentrasi mangsa di lapisan-lapisan spesifik inilah yang pada akhirnya mendikte pergerakan dan lokasi tangkapan spesies bernilai ekonomi tinggi seperti tuna tropis.
Melengkapi temuan tersebut, dari perspektif polusi, riset kedua yang dipresentasikan oleh peneliti Pusat Riset Laut Dalam (PRLD) BRIN, Corry Yanti Manullang, mengungkap bahwa struktur kolom air yang sama ternyata juga bertindak sebagai perangkap bagi partikel asing.
Corry memaparkan hasil studi mengenai perjalanan mikroplastik di sepanjang Arus Lintas Indonesia (ITF). Alih-alih langsung tenggelam ke dasar laut atau murni mengapung, partikel mikroplastik kerap tertahan di lapisan termoklin.
Keberadaan mikroplastik yang melayang di kolom air ini membuatnya rentan tertelan oleh organisme penyokong rantai makanan seperti kopepoda (krustasea kecil). Terlebih lagi, fenomena pergerakan air vertikal seperti upwelling turut mendistribusikan ulang partikel ini ke berbagai kedalaman, sebelum pada akhirnya mengendap di sedimen laut dalam. Konsentrasi mikroplastik di dasar laut ini terbukti jauh lebih tinggi di area yang berdekatan dengan pesisir dibandingkan lepas pantai, membuktikan pentingnya pengendalian sumber polusi lokal.
"Jika kita hanya memonitor permukaan, kita mungkin melewatkan partikel di sekitar termoklin, di perairan yang lebih dalam, di dalam organisme laut, dan sedimen laut dalam. Masalah tiga dimensi membutuhkan pemantauan tiga dimensi," tegas Corry.
Forum ini menyampaikan sebuah pesan krusial bagi masa depan riset kelautan global. Upaya pelestarian, manajemen perikanan, hingga mitigasi polusi laut tidak bisa lagi hanya berfokus pada apa yang terlihat di permukaan, melainkan harus mengintegrasikan observasi oseanografi, akustik, dan biologi hingga ke titik terdalam lautan.

