Korban Keracunan MBG di Batang Tembus 411 Orang


Batang, MBGtoday.com, Kasus keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah terus bertambah. 

Informasi terakhir, per Kamis (25/9/2026) sore, Dinas Kesehatan Kabupaten Batang mencatat ada 411 orang jadi korban MBG. 

Bupati Batang M. Faiz Kurniawan mengucapkan duka cita yang mendalam atas kejadian yang menimpa ratusan warga Kabupaten Batang, dari usia anak-anak hingga lansia, yang menjadi penerima manfaat program MBG tersebut. 

Pemerintah Kabupaten Batang memastikan semua pihak yang terdampak akan mendapatkan penanganan yang layak, baik mereka yang dirawat di rumah sakit maupun puskesmas. 

"Kami pemerintah daerah berupaya memberikan pelayanan kesehatan yang maksimal. Kami juga akan membatu keluarga korban, dimana nanti penunggu pasien karena mungkin sehari dua hari ini mereka tidak bisa bekerja, kita juga akan berikan santunan," ucap Faiz, Kamis (24/9).

Faiz mengatakan, pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk melakukan monitoring, evaluasi, dan audit terhadap SPPG. Kalau nanti ada rekomendasi penutupan dari Pemerintah daerah, pihak BGN akan menutup SPPG tersebut.

“Langkah evaluasi diperlukan untuk memastikan seluruh proses penyediaan makanan MBG berjalan sesuai standar dan tidak menimbulkan kejadian serupa. Sementara itu, penyebab pasti dugaan keracunan masih dalam tahap pemeriksaan laboratorium dan investigasi oleh tim kesehatan,” tegasnya.

Faiz menerangkan, dalam peninjauan dapur SPPG, perwakilan BGN menemukan sejumlah standar yang dinilai belum terpenuhi. 

"Di antaranya berkaitan dengan kondisi bangunan, seperti dinding yang belum solid serta beberapa bagian area dapur yang belum sesuai standar,” terangnya.

Faiz menyebutkan, temuan tersebut akan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan keberlanjutan operasional SPPG Bela Batang Sejahtera. SPPG tersebut saat ini telah dihentikan sementara.

“Kalau memang dirasa tidak layak untuk melanjutkan pelayanan gizi kepada masyarakat, ya harus kita tutup secara permanen. Keputusan tersebut nantinya akan dibahas bersama BGN berdasarkan hasil evaluasi secara menyeluruh. Yang terpenting bagi kita adalah bagaimana ke depan mengevaluasi ini secara total dan kemudian masyarakat percaya pemerintah mampu memberikan pelayanan gizi kepada masyarakat,” tegasnya. 

Kepala KPPG Semarang Hadiriajaya mengatakan, pihaknya telah melakukan investigasi awal setelah terjadinya dugaan keracunan. Tim BGN melakukan pengecekan langsung terhadap kondisi bangunan dapur SPPG serta memeriksa rekaman kamera pengawas atau CCTV.

“Kami juga melakukan investigasi awal. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati, kemudian satgas, terutama Dinkes untuk melakukan investigasi pengambilan sampel makanan untuk dilakukan uji lab,” tuturnya.

Dari pemeriksaan awal melalui CCTV, BGN menemukan adanya proses pengolahan makanan yang dilakukan lebih awal dari waktu yang ditetapkan dalam Standar Operasional Prosedur (SOP).

Menurut Hadiriajaya, proses pengolahan makanan terlihat dimulai sekitar pukul 19.30 WIB. Padahal, berdasarkan SOP, pengolahan makanan seharusnya dilakukan setelah pukul 02.00 WIB dini hari. Temuan tersebut menjadi salah satu bagian yang akan didalami dalam investigasi untuk mengetahui kaitannya dengan kejadian dugaan keracunan.