Dekatkan Astronomi untuk Masyarakat


Jakarta, MBGtoday.com, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mendorong pemanfaatan hasil riset dan teknologi antariksa untuk mendukung edukasi astronomi bagi masyarakat. Upaya ini dilakukan antara lain melalui keterlibatan periset dalam kegiatan pembelajaran serta dukungan peralatan pengamatan astronomi di Imah Noong, Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Imah Noong merupakan kampung eduwisata yang memadukan pembelajaran astronomi dengan kearifan lokal. Melalui berbagai kegiatan pengamatan dan edukasi, tempat ini menjadi ruang bagi anak-anak, keluarga, sekolah, dan komunitas untuk mengenal astronomi secara langsung.

Pendiri Imah Noong, Hendro Setyanto, menjelaskan bahwa kolaborasi dengan BRIN telah mendukung kegiatan edukasi astronomi yang diselenggarakan di tempat tersebut. Salah satunya melalui keterlibatan periset BRIN yang berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan masyarakat.

“Saung Ngawangkong dimanfaatkan menjadi ruang kelas dan diskusi. Cukup banyak periset dari BRIN yang sering berbagi pengalaman langsung di sini,” ujar Hendro dalam keterengan tertulisnya, Sabtu (10/10).

Sebelumnya, juga digelar webinar 100 Jam Astronomi untuk Semua yang diselenggarakan Pusat Riset Antariksa (PRA) BRIN, dalam rangka memperingati World Space Week.

Selain keterlibatan periset, BRIN juga memberikan dukungan peralatan astronomi untuk menunjang kegiatan pengamatan. Hendro menyampaikan apresiasinya atas hibah peralatan berupa iOptron GEM45 Pro dan Celestron 8 F/10 yang ditempatkan di Saung Sundial, salah satu fasilitas pengamatan di Imah Noong.

Dukungan tersebut memungkinkan kegiatan edukasi astronomi dilakukan melalui pengamatan langsung menggunakan perangkat astronomi. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memperoleh penjelasan mengenai benda-benda langit, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengamati fenomena astronomi secara langsung.

Menurut Hendro, Imah Noong mengembangkan berbagai aktivitas yang dirancang agar pembelajaran astronomi dapat diakses oleh beragam kelompok masyarakat.

“Aktivitas untuk publik yang masih aktif dilakukan yaitu Noong Panonpoe atau pengamatan Matahari, Noong Bentang atau pengamatan langit malam, Kagiatan Sapoestop, Stars Camp, Sharing of Experiences, Pasar Purnama, dan Mobile Astronomy atau Planetarium Portable,” jelasnya.

Untuk mendukung kegiatan tersebut, Imah Noong memiliki sejumlah fasilitas, antara lain Saung Ngawangkong, Saung Geser, Saung Kubah, Saung Sundial, dan Mushollatorium.

Saung Ngawangkong dimanfaatkan sebagai ruang kelas dan diskusi, termasuk untuk kegiatan berbagi pengetahuan bersama periset BRIN. Sementara itu, Saung Geser, Saung Kubah, dan Saung Sundial digunakan untuk kegiatan pengamatan astronomi dengan dukungan teleskop dan perangkat pengamatan lainnya.

Melalui fasilitas dan kegiatan tersebut, pengunjung dapat mengenal berbagai objek dan fenomena astronomi, mulai dari Matahari, Bulan, hingga benda-benda langit yang dapat diamati pada malam hari. Pengalaman pengamatan menjadi bagian penting dalam memperkenalkan konsep astronomi kepada masyarakat.

Kegiatan edukasi Imah Noong juga tidak terbatas pada fasilitas yang tersedia di Lembang. Hendro menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan sejumlah ekspedisi pengamatan gerhana Matahari ke berbagai wilayah Indonesia.

Ekspedisi tersebut antara lain dilakukan di Lampung pada 2009, Bangka Tengah pada 2016, Kalimantan Barat pada 2019, serta Biak, Papua, pada 2023. Selain pengamatan fenomena astronomi, kegiatan tersebut juga disertai sosialisasi astronomi kepada sekolah-sekolah.

Berbagai aktivitas ini memperlihatkan bagaimana fasilitas pengamatan dan keterlibatan komunitas dapat menjadi sarana untuk memperluas jangkauan edukasi astronomi. Pengetahuan yang dikembangkan melalui kegiatan riset dapat diperkenalkan kepada masyarakat melalui pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks tersebut, kontribusi BRIN melalui keterlibatan periset dan dukungan peralatan pengamatan menjadi salah satu bentuk keterhubungan antara kegiatan riset dengan pembelajaran sains di masyarakat. Kolaborasi dengan ruang edukasi publik seperti Imah Noong membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berinteraksi dengan pengetahuan dan teknologi astronomi.

Peneliti Ahli Pertama PRA BRIN sekaligus moderator webinar, Gerhana Puannandra Putri, menyampaikan bahwa kegiatan edukasi astronomi diharapkan dapat memperluas pemahaman masyarakat terhadap ilmu pengetahuan sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap fenomena alam semesta.

“Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat dapat lebih mengenal astronomi, bukan sekadar sebagai ilmu yang mengamati benda langit, tetapi juga sebagai jembatan untuk meningkatkan literasi sains, menumbuhkan rasa ingin tahu, serta memperluas cara pandang masyarakat terhadap alam semesta,” ujar Gerhana.

Keterlibatan BRIN dalam kegiatan edukasi astronomi menunjukkan bahwa pemanfaatan hasil riset dan teknologi antariksa tidak terbatas pada lingkungan penelitian. Melalui dukungan fasilitas dan interaksi langsung antara periset dengan masyarakat, pengetahuan astronomi dapat diperkenalkan secara lebih luas sekaligus memperkuat literasi sains di Indonesia.