Batik Rifaiyah Punya Nilai Filosofi dan Sejarah


Batang, MBGtoday.com, Batik Rifa’iyah bukan sekadar karya seni, melainkan warisan budaya yang menyimpan nilai filosofi, sejarah perjuangan, dan identitas komunitas. 

Karena itu, pelestarian batik khas Kabupaten Batang, Jawa Tengah tersebut perlu diperkuat melalui dokumentasi motif, regenerasi pembatik, serta pewarisan keterampilan kepada generasi muda.

Hal itu ditegaskan Ketua Dekranasda Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, saat menghadiri Kenduri Batik 2026 di Objek Wisata Hutan Pinus Si Kembang, Kecamatan Blado. Dia mendorong seluruh pihak untuk berkolaborasi menjaga keberlanjutan Batik Rifa’iyah.

Nawal menjelaskan, Batik Rifa’iyah memiliki keterkaitan erat dengan sejarah perjuangan masyarakat Rifa’iyah melawan kolonialisme. Nilai sejarah menjadikan batik ini bukan hanya produk kerajinan, tetapi juga representasi perjuangan nilai dan identitas komunitas yang menjaganya.

“Batik Rifaiyah ini lahir dari perjuangan melawan kolonialisme masyarakat Rifaiyah. Batik Rifaiyah bukan sekadar karya, tetapi juga bagian dari perjuangan-perjuangan sejarah, perjuangan nilai, dan perjuangan identitas komunitas agama yang menjaganya,” ungkapnya.

Selain nilai sejarah, imbuh Nawal, proses pembuatan Batik Rifa’iyah juga memiliki dimensi spiritual. Tradisi membatik yang disertai lantunan selawat kepada Rasulullah SAW menjadi salah satu ciri yang melekat pada warisan budaya tersebut.

Di sisi lain, keberadaan motif Batik Rifa’iyah menghadapi tantangan pelestarian. Nawal mengapresiasi langkah Dekranasda Kabupaten Batang yang telah mendokumentasikan motif-motif langka, untuk mencegah hilangnya kekayaan budaya tersebut.

“Karena motif-motif batik Rifaiyah ini sudah banyak berkurang. Jumlah motif batik Rifaiyah yang telah dikenal sebelumnya sebanyak 24 motif tetapi kini tersisa hanya sekitar 16 motif,” ungkap Ketua TP PKK Jateng ini.

Menurut Nawal, berkurangnya jumlah motif menjadi pengingat bahwa warisan budaya dapat hilang apabila tidak dirawat secara serius. Karena itu, pelestarian harus terus dilanjutkan dengan pewarisan keterampilan, pembelajaran kepada generasi muda, penguatan komunitas pembatik, serta pengembangan produk yang tetap menghormati nilai tradisi.

“Kekayaan budaya ini bisa berkurang atau hilang sama sekali, apabila tidak dirawat secara serius dan berkelanjutan, baik oleh pemerintah, baik oleh pengrajin, dan baik untuk masyarakat,” ucap istri Wagub Jateng tersebut.

Dia menekankan, upaya menjaga tradisi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, perajin, komunitas, hingga masyarakat. Kolaborasi itu diperlukan agar dokumentasi motif yang telah dilakukan, dapat menjadi fondasi bagi keberlanjutan keterampilan membatik dan pengembangan produk Batik Rifa’iyah.

Lebih jauh, Nawal memandang batik Batang sebagai kekuatan kebudayaan sekaligus aset ekonomi kreatif, yang berpotensi dikembangkan untuk masa kini dan masa mendatang. Namun, potensi ini perlu ditopang oleh keberlanjutan jumlah perajin dan kemampuan beradaptasi dengan kebutuhan pasar tanpa kehilangan karakter tradisional.

Tantangan regenerasi menjadi semakin penting di tengah penurunan jumlah perajin batik di Jateng. Berdasarkan data Balai Besar Kerajinan dan Batik Kementerian Perindustrian untuk periode 2020–2024, jumlah perajin batik tercatat turun dari 82.550 orang, atau berkurang sebanyak 49.530 orang, setara dengan sekitar 40 persen.

Melihat kondisi tersebut, Nawal mendorong perlunya upaya lebih serius untuk menumbuhkan minat generasi muda terhadap batik, baik sebagai warisan budaya maupun sebagai bidang usaha. Oleh sebab itu, dukungan kepada pengrajin batik juga perlu terus dilakukan.

“Maka para pembatik ini harus mendapatkan akses pelatihan, akses permodalan dan perlindungan usaha, diberikan pendampingan desain, teknologi produksi yang sesuai, serta akses pasar baik nasional maupun global,” bebernya.

Untuk memperkuat regenerasi, pihaknya mendorong keterlibatan sekolah, perguruan tinggi, komunitas kreatif, desainer, dan pelaku pemasaran digital. Sinergi ini diharapkan dapat memperluas pengenalan batik kepada generasi muda sekaligus membuka peluang pengembangan produk dan pasar.

“Sekolah harus terlibat, universitas perguruan tinggi harus terlibat, komunitas kreatif harus terlibat, desainer juga harus terlibat dan pelaku pemasaran digital agar proses regenerasi berlangsung,” pungkas Nawal.