F1 Kembali Ke Afrika, Lewis Hamilton Terpaksa Tunda Pensiun


Austin - Impian jangka panjang Lewis Hamilton untuk melihat Formula 1 kembali ke benua Afrika akhirnya menemui titik terang. Namun, pengumuman resmi mengenai rencana balapan di Rwanda ini justru membawa dilema tersendiri bagi juara dunia tujuh kali tersebut, baik terkait masa depannya di jet darat maupun isu kemanusiaan yang menyelimutinya. 

Formula 1 secara resmi telah mengumumkan bahwa Rwanda akan menjadi tuan rumah Grand Prix di awal dekade 2030-an. Keputusan ini otomatis akan mengakhiri absennya Afrika dari kalender F1 selama hampir empat dekade, setelah terakhir kali menggelar balapan di Kyalami, Afrika Selatan, pada tahun 1993. 

Bagi Hamilton, yang kini berusia 41 tahun, kabar ini menjadi berkah sekaligus "tantangan" bagi masa pensiunnya. Pembalap veteran tersebut berseloroh bahwa ia kini merasa harus membalap lebih lama demi bisa mewujudkan impian masa kecilnya berkompetisi di tanah Afrika. 

"Sekarang saya terpaksa harus bertahan lebih lama (di F1) karena kita akan memiliki balapan di Afrika," ujar Hamilton sambil tertawa saat berbicara dalam sesi konferensi pers hari Kamis di Austin, Texas. 

Kendati sangat mendukung kembalinya F1 ke Afrika—sebuah misi yang sudah ia suarakan selama bertahun-tahun kepada CEO F1 Stefano Domenicali—Hamilton mengingatkan agar olahraga ini tidak menutup mata terhadap situasi politik dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang sedang terjadi di wilayah tersebut. 

Langkah F1 memilih Rwanda sendiri memicu gelombang kritik keras dari Amnesty International dan pemerintah Republik Demokratik Kongo (DRC). Rwanda dituduh terlibat dalam konflik regional dan mendukung kelompok pemberontak M23 di DRC yang diduga melakukan pelanggaran HAM berat serta perdagangan ilegal sumber daya alam. Menteri Luar Negeri DRC, Thérèse Kayikwamba Wagner, bahkan menyebut kerja sama F1 dengan Rwanda sebagai sesuatu yang secara moral tidak dapat dipertahankan. 

Menanggapi kontroversi tersebut, Hamilton berharap kehadiran F1 bisa menjadi pemantik edukasi dan diskusi global yang lebih luas, alih-alih sekadar menjadi ajang hiburan semata. 

"Tentu saja dengan pergi ke sana, bukan berarti kita mengabaikan hal-hal yang sedang terjadi. Saya berharap ini bisa memicu percakapan. Kita harus memastikan bahwa kita terus menyuarakan kebebasan untuk Kongo, Sudan, Suriah, dan Palestina. Saya berharap kita bisa mencapai perdamaian di beberapa titik," tegas Hamilton. 

Hamilton tetap meyakini bahwa Afrika sangat layak memiliki Grand Prix sendiri karena kekayaan budaya dan potensinya yang besar. Menurutnya, banyak masalah yang dihadapi benua tersebut saat ini merupakan dampak jangka panjang dari kolonialisme dan intervensi Barat. Namun, ia berharap F1 bisa datang ke sana dengan penuh rasa hormat dan kerendahan hati. 

Apakah Hamilton akan tetap berada di belakang kemudi hingga tahun 2030-an demi mencicipi aspal Afrika? Waktu yang akan menjawab. Namun yang pasti, kembalinya F1 ke Afrika kini membawa misi yang jauh lebih besar daripada sekadar kompetisi balap mobil.