Temanggung Lirik Potensi Besar Gula Semut
Proses pembuatan gula nira olah masyarakat. (IST)
Temanggung, MBGToday.com, Pemkab Temanggung melirik potensi besar dari gula semut. Ada nilai tambah, serta mendorong ekonomi lokal.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Temanggung Hendra Sumaryana mengatakan, produk gula semut di daerahnya masih tergolong baru dan belum sepenuhnya dikenal masyarakat luas.
“Baru di bawah lima tahun masyarakat mengenal adanya gula semut. Karena itu, kita mencoba melakukan riset ilmiah yang diharapkan menjadi edukasi tidak hanya bagi petani namun juga pengambil kebijakan,” ujarnya, selasa (27/5).
Belum lama ini, bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Pemkab Temanggung menggelar Focus Group Discussion (FGD) mengangkat tema “Model Pengembangan Agroindustri Gula Semut Berbasis Nira Aren untuk Meningkatkan Nilai Tambah dan Ekonomi Lokal Jawa Tengah”.
Kegiatan ini menghadirkan pemangku kepentingan dari berbagai kalangan, termasuk peneliti, pelaku usaha, serta aparatur pemerintah.
Sementara itu, Ketua Tim Peneliti BRIN, Dr. Istriningsih mengatakan, Temanggung memiliki posisi strategis sebagai produsen aren terbesar di Jawa Tengah.
“Di Kabupaten Temanggung ini menarik untuk kita kaji, karena pemainnya masih sedikit dan produk ini masih relatif baru, namun kami memandang, bahwa produk ini promising,” jelasnya.
Sebagai bagian dari kajian lapangan, Tim BRIN telah melakukan observasi langsung ke Kecamatan Kandangan, tepatnya di Desa Margolelo dan Desa Tlogopucang. Di sana, tim melakukan wawancara dengan 30 responden yang terdiri dari petani dan produsen gula semut.
“Kita wawancara 30 responden, baik petani, maupun produsen atau pengrajin gula semut,” tambah Istriningsih.
Dibandingkan dengan gula batok yang selama ini lebih umum diproduksi masyarakat, gula semut dinilai memiliki prospek yang lebih luas, termasuk potensi untuk menembus pasar ekspor.
“Apabila dari Pemerintah Kabupaten Temanggung akan menggarap gula semut aren ini lebih besar lagi, barangkali ini bisa menjadi salah satu produk potensial untuk nanti tujuan ekspor. Ujungnya nanti bukan ekspornya, tetapi kesejahteraan petani aren, karena selama ini produk unggulan mereka kan gula batok,” terangnya.

