Perluas Program Pemagangan di Luar Negeri
Semarang, MBGtoday.com - Pemerintah provinsi Jawa Tengah didorong untuk memperluas negara tujuan dalam program pemagangan.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah mengatakan, dengan langkah ini, kesempatan masyarakat di provinsi ini untuk mengikuti program tersebut juga akan semakin luas.
"Memang butuh, bagaimana kita secara aktif mendatangi peluang-peluang penempatan magang di luar negeri di berbagai negara ini," ungkapnya.
Kakung, sapaan akrab Sarif, mengapresiasi adanya program pemagangan di Jepang yang dijalankan Pemprov Jateng. Namun dengan adanya negara pilihan lain, maka akan semakin menjawab sejumlah persoalan ketenagakerjaan yang ada.
"Minat Jepang terhadap tenaga kerja muda asal Jawa Tengah disebut terus meningkat. Tentu ini sesuatu yang positif dan menjadi modal besar yang berharga," sebut politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.
Meski demikian, kata Kakung, kompetensi, integritas, hingga kedisiplinan saja tidak cukup. Peningkatan kemampuan berbahasa juga harus menjadi perhatian.
"Dengan kemampuan bahasa, tentu juga banyak pilihan. Misalnya Jerman, Taiwan, atau bisa saja Turki," terang legislator dari daerah pemilihan (dapil) Banyumas dan Cilacap ini.
Menurut Kakung, pemagangan ke luar negeri merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem kesempatan kerja dan ekosistem pekerja migran Indonesia yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
"Karena itu, perencanaan juga harus dimulai sejak jenjang pendidikan menengah, khususnya di SMK, melalui penyelarasan antara pilihan keterampilan, kompetensi, kebutuhan dunia kerja, hingga negara tujuan kerja, maupun bahasa tadi," bebernya.
Kata Kakung, sejak memilih pendidikan di tingkat SMA maupun SMK, khususnya yang memilih keterampilan dan kompetensi tertentu, menjadi satu kesatuan dengan perencanaan ketenagakerjaan.
"Dengan begitu, motivasi, potensi diri, dan kesiapan kerja dapat dipersiapkan sejak dini dan telah difasilitasi secara optimal oleh pemerintah,” terangnya.
Kakung mengungkapkan, bahwa peluang kerja di luar negeri saat ini sangat besar. Ini didorong oleh banyak negara maju yang mengalami kekurangan tenaga kerja usia produktif.
"Di sisi lain, Indonesia, termasuk di dalamnya Jawa Tengah memiliki bonus demografi dengan jumlah tenaga kerja muda yang sangat besar," tandasnya.

