Hindari Risiko Pengelolaan TPA, Perlu Pendekatan Teknologi Berdasarkan Karakteristik Sampah
Jakarta, MBGtoday.com, Kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin menjadi pengingat bahwa pengelolaan sampah nasional masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari penumpukan sampah, hingga risiko kebakaran yang meningkat terutama pada musim kemarau.
Persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan kapasitas TPA yang semakin terbatas, tetapi juga masih dominannya praktik pembuangan terbuka (open dumping), minimnya penerapan teknologi pengolahan sampah, serta belum optimalnya implementasi kebijakan dan kolaborasi antarpemangku kepentingan.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wahyu Purwanta menjelaskan bahwa tidak ada satu teknologi yang tepat untuk semua jenis sampah dan semua daerah.
Pendekatan yang lebih tepat adalah memilih teknologi berdasarkan karakteristik sampah, skala timbulan, kondisi wilayah, kesiapan infrastruktur, pasar produk, serta kemampuan pembiayaan dan pengoperasian jangka panjang.
"Hal yang perlu ditekankan adalah bahwa teknologi bukan sekadar membeli peralatan. Keberhasilan sangat bergantung pada kesesuaian teknologi dengan karakteristik sampah, kualitas operasi dan pemeliharaan, kompetensi operator, sistem pemantauan, serta kepastian pengelolaan produk dan residunya," kata Wahyu dalam keterangan tertulisnya, Rabu (8/7)
Lebih jauh, Wahyu menyebutkan bahwa sampah organik dapat dikurangi melalui pengomposan, biodigester atau anaerobic digestion, serta teknologi biokonversi tertentu. Material yang masih bernilai perlu dipilah dan dikembalikan ke rantai daur ulang.
Untuk menghindari risiko kebakaran, Wahyu mengatakan bahwa fraksi sampah yang mudah terbakar dan memiliki nilai kalor memadai dapat dipertimbangkan untuk diolah menjadi RDF atau dimanfaatkan melalui teknologi termal dan waste-to-energy yang memenuhi persyaratan teknis dan lingkungan. Hanya fraksi yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan lagi yang seharusnya masuk ke fasilitas akhir sebagai residu.
"Teknologi untuk mencegah kebakaran di fasilitas akhir juga perlu dikembangkan, antara lain pemantauan temperatur, kamera dan drone termal, sensor gas, pengelolaan gas landfill, serta sistem peringatan dini berbasis kombinasi data timbunan dan cuaca," tandasnya.
Wahyu pun menekankan bahwa suatu TPA memiliki risiko kebakaran. Risiko ini perlu dikenali sejak awal melalui perbaikan operasi, pemantauan kondisi timbunan, pengelolaan gas, deteksi hotspot, pengawasan sumber api, serta kesiapsiagaan yang ditingkatkan pada musim kemarau. Pada saat yang sama, pemerintah daerah perlu memiliki rencana yang jelas untuk mengurangi jumlah sampah yang harus berakhir di fasilitas akhir (TPA).
Di sisi lain, Wahyu menerangkan secara ilmiah, kebakaran terjadi ketika tiga unsur bertemu, yaitu bahan bakar, oksigen, dan sumber panas atau penyalaan. Di area TPA, bahan bakar tersedia dalam jumlah besar berupa sampah yang mudah terbakar, seperti plastik, kertas, tekstil, kayu, karet, serta material organik yang telah mengering. Gas landfill, termasuk metana, juga dapat berperan sebagai bahan bakar pada kondisi tertentu. Oksigen tersedia dari udara, termasuk yang masuk melalui permukaan, retakan, dan rongga di dalam timbunan.
"Unsur yang paling sulit dipastikan biasanya adalah sumber penyalaan awal. Secara umum, pemicu dapat berasal dari api terbuka, puntung rokok, pembakaran di sekitar lokasi, benda atau abu panas, maupun sumber panas di dalam timbunan. Namun, untuk suatu kejadian tertentu, termasuk kebakaran TPA Jatiwaringin, penyebab spesifik sebaiknya tidak disimpulkan sebelum ada hasil investigasi yang memadai," ungkap Wahyu.
Menurut Wahyu, pencegahan kebakaran harus dimulai dari pengelolaan TPA yang aktif dan terkontrol. Pada fasilitas yang masih beroperasi, risiko dapat dikurangi melalui pembatasan luas area kerja aktif (working face), pemadatan dan penutupan sampah secara berkala, pengelolaan gas landfill, pengawasan terhadap sumber api, serta kesiapsiagaan khusus pada musim kemarau.
Pendekatan berbasis sains juga perlu diarahkan pada deteksi dini. Parameter seperti temperatur permukaan dan bawah permukaan, anomali panas, konsentrasi gas tertentu, hari tanpa hujan, kelembapan, serta kecepatan dan arah angin dapat digunakan untuk mengenali peningkatan risiko. Kamera termal, drone termal, sensor temperatur, pemantauan gas, dan data cuaca dapat membantu menemukan hotspot sebelum berkembang menjadi kebakaran besar.
"Ke depan, berbagai parameter tersebut dapat diintegrasikan menjadi sistem peringatan dini atau indeks risiko kebakaran TPA yang sesuai dengan karakteristik sampah dan iklim Indonesia," ucapnya.
Namun demikian, pencegahan jangka panjang tidak cukup dilakukan di dalam TPA. Jumlah sampah campuran yang harus ditimbun juga harus dikurangi. Semakin besar timbunan sampah yang tidak terkelola dan semakin luas area terbuka, semakin besar pula potensi risikonya.
“Dalam jangka panjang, arah kebijakan perlu memastikan semakin sedikit sampah campuran yang masuk ke fasilitas akhir. Pengurangan, pemilahan, daur ulang, pengolahan sampah organik, dan pemanfaatan fraksi yang masih memiliki nilai harus diperkuat, sehingga fasilitas akhir pada akhirnya lebih banyak menerima residu dan dioperasikan secara lebih terkontrol,” pungkasnya.

