Carlos Sainz Ragukan Keamanan Seri Penutup F1 di Qatar dan Abu Dhabi Menyusul Eskalasi Konflik Timur Tengah
Austin, Texas - Penyelenggaraan dua seri terakhir Formula 1 musim 2026 di Qatar dan Abu Dhabi kini diselimuti oleh keraguan yang sangat besar. Meskipun Federasi Otomotif Internasional (FIA) dan Formula One Management (FOM) terus menegaskan bahwa balapan akan berjalan sesuai rencana, suara-suara kekhawatiran dari dalam paddock mulai bermunculan ke permukaan. Salah satu kritik paling jujur datang dari pembalap senior sekaligus direktur Asosiasi Pembalap Grand Prix (GPDA), Carlos Sainz.
Dalam konferensi pers menjelang GP Amerika Serikat 22 Oktober 2026 di Austin, Sainz secara terbuka menyatakan bahwa sangat sulit untuk merasa yakin 100 persen bahwa balapan di Qatar dan Abu Dhabi benar-benar aman untuk digelar. "Bagi saya pribadi—dan saya tidak berbicara atas nama GPDA—sangat sulit untuk merasa yakin saat ini. Masih banyak hal yang terjadi di Timur Tengah", ungkap Sainz. Ia juga menyoroti bagaimana dinamika politik global, termasuk Pemilu Paruh Waktu Amerika Serikat yang akan datang, dapat mengubah peta keamanan regional dalam waktu yang sangat singkat. Walau Sainz kemudian memperjelas posisinya untuk tetap menghormati keputusan FIA selaku otoritas tertinggi, pesannya sangat gamblang bahwa dunia balap tidak boleh menutup mata terhadap eskalasi nyata di lapangan.
Selepas persaingan sengit di Circuit of The Americas (COTA) akhir pekan ini, kalender Formula 1 musim 2026 sebenarnya masih menyisakan beberapa agenda padat sebelum menuju wilayah Teluk. Para pembalap dijadwalkan langsung bertolak menuju Mexico City untuk melakoni Grand Prix Mexico pada 30 Oktober hingga 1 November 2026, disusul dengan Grand Prix São Paulo di Brasil pada 6 hingga 8 November 2026. Setelah itu, grid akan terbang menuju Amerika Serikat untuk menggelar Grand Prix Las Vegas pada 19 hingga 21 November 2026, yang sekaligus membuka rangkaian tiga balapan beruntun (triple-header) terakhir. Berdasarkan jadwal resmi dari Formula 1, musim kompetisi tahun ini baru akan benar-benar berakhir melalui dua putaran pamungkas yang bertempat di Qatar pada 27 hingga 29 November 2026 dan Abu Dhabi pada 4 hingga 6 Desember 2026.
Ketakutan Sainz dan beberapa pembalap lainnya bukanlah sebuah paranoia tanpa alasan. Gejolak geopolitik di Timur Tengah kini tidak lagi berupa ketegangan politik di balik meja, melainkan ancaman kinetik yang sangat dekat dengan wilayah Teluk. Kekhawatiran terbesar F1 berakar dari serangkaian serangan mematikan yang baru saja menghantam infrastruktur strategis di Arab Saudi sepanjang bulan Oktober 2026. Kelompok Houthi dari Yaman yang disokong Iran meluncurkan gelombang serangan drone dan rudal balistik ke wilayah kerajaan dengan menargetkan fasilitas penerbangan sipil dan pusat ekonomi.
Pada awal Oktober, serangan berturut-turut menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan Bandara Abha, di mana sebuah pesawat Airbus A320 milik maskapai Saudia hancur di landasan dan menewaskan tiga warga sipil termasuk sang pilot. Kejadian ini membuat banyak maskapai internasional langsung menangguhkan penerbangan mereka. Ketegangan memuncak di pertengahan bulan saat serangan udara kembali menghantam Bandara Internasional King Fahd di Dammam serta fasilitas kilang minyak raksasa Saudi Aramco di Shaybah, yang merenggut nyawa pekerja lokal dan asing. Menyusul situasi yang kian kritis, raksasa minyak Saudi Aramco bahkan sempat memerintahkan evakuasi massal bagi seluruh stafnya di markas besar Dhahran untuk bekerja secara jarak jauh demi keselamatan. Pihak koalisi Saudi sendiri terus berupaya keras mencegat rudal-rudal balistik yang mengarah ke ibu kota Riyadh sambil meluncurkan serangan balasan ke platform peluncur musuh.
Rentetan serangan udara di Arab Saudi ini memicu alarm bahaya di seluruh Semenanjung Arab, bahkan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat langsung mengeluarkan perintah evakuasi bagi keluarga diplomat mereka. Hal inilah yang membuat paddock F1 di Qatar dan Abu Dhabi ikut tegang karena faktor jarak geografis dan kesamaan risiko yang membayangi wilayah tersebut. Sirkuit Lusail di Qatar dan Yas Marina di Abu Dhabi berada dalam radius jangkauan teknologi rudal dan drone yang saat ini berkecamuk. Sebagai catatan, awal musim F1 2026 sendiri sudah berantakan akibat konflik ini dengan dibatalkannya Grand Prix Arab Saudi dan diungsikannya GP Bahrain jauh ke Malaysia.
Hingga saat ini, Presiden FIA Mohammed Ben Sulayem bersikeras bahwa dua seri penutup akan tetap berjalan. Namun, laporan internal menyebutkan bahwa F1 secara diam-diam telah menyiapkan skenario darurat, termasuk menempatkan Sirkuit Imola di Italia dalam posisi standby jika Timur Tengah benar-benar menjadi zona perang terbuka menjelang akhir November. Pernyataan Carlos Sainz menjadi pengingat kuat bagi FOM bahwa di atas mahalnya hak siar dan megahnya sirkuit Timur Tengah, keselamatan ribuan kru tim, pembalap, dan penonton adalah prioritas yang tidak bisa ditawar karena dunia bisa berubah sangat banyak dalam satu setengah bulan ke depan.

